Berita, Nasional

Pakar ITB Ungkap Strategi Bisnis di Balik Harga Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax

Repelita.net

10 May 2026 23:31 WIB • 1,065 view

Pakar ITB Ungkap Strategi Bisnis di Balik Harga Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Harga BBM jenis Pertalite belakangan ini kembali menjadi pusat perhatian masyarakat setelah muncul perdebatan sengit mengenai nilai keekonomian bahan bakar tersebut yang disebut-sebut lebih mahal dibandingkan Pertamax.

Isu ini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial usai beredar luas sebuah video yang memperlihatkan seorang konsumen mempertanyakan mengapa Pertamax dengan angka oktan lebih tinggi justru dibanderol dengan harga yang lebih murah dibandingkan nilai keekonomian Pertalite.

ADVERTISEMENT

Fenomena anomali harga BBM ini otomatis melahirkan pertanyaan baru di tengah publik karena secara kualitas, Pertamax memiliki Research Octane Number (RON) yang lebih unggul dibandingkan Pertalite.

Diskusi soal harga Pertalite kian meluas setelah seorang pakar bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung mengungkap adanya strategi bisnis tertentu di balik penetapan harga kedua jenis BBM tersebut.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung sekaligus ahli bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa secara nilai keekonomian, selisih harga antara BBM RON 90, RON 92, hingga RON 95 sebetulnya tidak terlalu jauh.

Tri menyebutkan bahwa kondisi pasar di Indonesia sangat berbeda dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura yang memiliki rentang harga yang sangat tipis antarjenis BBM.

Menurut dia, keanehan mulai terlihat ketika nilai keekonomian Pertalite disebut mencapai angka Rp16.088 per liter, sementara di sisi lain Pertamax dijual di kisaran harga yang jauh lebih murah yaitu Rp12.300 per liter.

Kondisi yang timpang tersebut kemudian memicu pertanyaan besar dari publik mengenai alasan di balik penjualan BBM berkualitas tinggi dengan banderol yang lebih murah.

Tri lantas menjelaskan bahwa perbedaan harga yang jomplang itu merupakan bagian dari strategi bisnis untuk mendorong perpindahan konsumen dari Pertalite ke Pertamax.

“Itu adalah strategi bisnis supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax,” kata Tri.

Ia menilai bahwa langkah korporasi tersebut berkaitan erat dengan kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi melalui sistem barcode yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan tertentu.

Dengan harga yang dibuat lebih kompetitif, masyarakat diharapkan mulai melirik dan mempertimbangkan penggunaan BBM berkualitas lebih tinggi yang dinilai lebih cocok untuk mesin kendaraan modern.

Selain itu, perpindahan massal pengguna dari BBM subsidi ke BBM nonsubsidi juga dinilai dapat membantu meringankan beban subsidi energi yang selama ini ditanggung negara.

“Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Tri juga ikut menyoroti persoalan klasik mengenai penyaluran subsidi BBM yang hingga saat ini masih dinilai belum tepat sasaran.

Menurut pandangannya, subsidi yang melekat pada komoditas membuat BBM bersubsidi tetap dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat mampu.

Ia pun menyebutkan bahwa idealnya subsidi diberikan langsung kepada individu yang berhak menerima, bukan ditempelkan pada suatu produk atau barang.

“Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang,” kata Tri.

Dalam penjelasannya yang panjang, Tri juga mengungkap bahwa harga Pertamax yang saat ini berada di kisaran Rp12 ribuan bukan berarti tanpa intervensi dari pihak mana pun.

Ia menyebut Pertamax dijual dengan skema subsidi internal yang berasal dari kantong Pertamina, dan hal ini berbeda dengan Pertalite yang mendapat subsidi langsung dari pemerintah.

Skema semacam itu dinilai menjadi salah satu cara jitu untuk menekan beban subsidi negara sekaligus mengarahkan konsumen kelas menengah ke atas agar beralih menggunakan BBM nonsubsidi.

Perdebatan soal harga BBM ini terus menjadi perhatian utama masyarakat karena menyangkut langsung biaya transportasi harian serta pengeluaran rumah tangga.

Di media sosial, tak sedikit pengguna yang mempertanyakan transparansi perhitungan harga BBM, terutama setelah munculnya angka nilai keekonomian Pertalite yang dianggap lebih tinggi daripada harga jual Pertamax.

Sementara itu, data konsumsi BBM nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Pertalite masih menjadi bahan bakar dengan pangsa pengguna terbesar di Indonesia karena faktor harga yang lebih ramah di kantong.

Pemerintah dan Pertamina hingga kini terus gencar mendorong penggunaan BBM berkualitas lebih baik demi menekan emisi gas buang kendaraan sekaligus meningkatkan efisiensi kerja mesin.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (1)

F
Ferry Adnan 14/05/2026

Khawatir jebakan Batman setelah migrasi dari Pertalite ke Pertamax akan terjadi juga kenaikan harga. Rakyat sensitif seharusnya pemerintah terbuka seperti terhadap kenaikan listrik yang secara diam-diam. Ingat kelas menengah sekarang sudah menjadi kelas bawah.

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung