Repelita Jakarta - Nama mendiang Prof Dr Teuku Jacob mendadak kembali mencuat ke permukaan publik setelah terseret dalam rangkaian perbincangan hangat mengenai jalannya persidangan Presiden ketujuh RI Joko Widodo di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Sorotan tersebut pertama kali digaungkan oleh Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa melalui akun media sosial X @DokterTifa pada hari Jumat, 6 November 2026.
ADVERTISEMENT
Dokter Tifa mengaku merasa terkejut saat mendengarkan cara pelafalan atau pengucapan nama mantan Rektor Universitas Gadjah Mada tersebut ketika Presiden ketujuh RI Joko Widodo memberikan keterangan dalam persidangan yang berlangsung pada Kamis, 5 November 2026.
Melalui unggahan di media sosial X @DokterTifa
tersebut, ia menuliskan kritikan dan penilaiannya secara langsung terkait pelafalan nama tokoh akademik terkemuka itu.
Adapun isi cuitan yang ditulis oleh Dokter Tifa di akun media sosial miliknya ditampilkan secara persis tanpa ada pengubahan teks sebagai berikut.
Profil serta rekam jejak akademis Prof Dr Teuku Jacob lantas kembali banyak dicari oleh masyarakat luas menyusul perdebatan pelafalan nama yang disoroti oleh kalangan akademisi kampus.
Ilmuwan terkemuka kelahiran Peureulak, Aceh Timur, pada tanggal 6 Desember 1929 ini dikenal sangat luas sebagai pakar terdepan dalam bidang antropologi ragawi serta paleoantropologi nasional.
Ia tercatat pernah mengemban amanah penting sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada pada periode masa bakti 1981 hingga 1986 serta menjadi guru besar emeritus di Fakultas Kedokteran universitas tersebut.
Kontribusi besar almarhum dalam dunia penelitian ilmiah meliputi penemuan serta pengembangan studi tentang fosil manusia purba dan sejarah evolusi di situs Sangiran, Jawa Tengah.
Perjalanan panjang pendidikan tingginya dimulai ketika ia berhasil merampungkan studi kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tahun 1956 dengan perolehan gelar akademik dokter.
Selanjutnya ia menerima beasiswa untuk memperdalam ilmu di Graduate College, University of Arizona, Tucson, Amerika Serikat, pada rentang waktu tahun 1957 sampai 1958.
Jenjang akademiknya terus berlanjut ke Howard University, Washington DC, Amerika Serikat, guna mendalami bidang anatomi dan antropologi ragawi hingga meraih gelar Master of Science pada 1960.
Selain menempuh studi pascasarjana, ia juga aktif mengabdikan diri sebagai instruktur anatomi di universitas yang sama serta merampungkan program magang di Providence Hospital pada tahun 1961.
Puncak pencapaian gelar Doktor bidang paleoantropologi berhasil diraihnya dari Rijkuniversiteit te Utrecht, Belanda, pada tahun 1967 dengan karya disertasi mengenai sejarah ras kawasan Nusantara.
Karier pengabdiannya di lingkungan kampus dimulai dari posisi sebagai asisten mahasiswa hingga dikukuhkan menjadi guru besar tetap bidang antropologi ragawi di Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1971.
Selama masa kepemimpinannya sebagai rektor, UGM mencatat lonjakan produktivitas pencapaian gelar doktor bagi para dosen dan tenaga pendidik secara signifikan.
Deretan penghargaan bergengsi tingkat nasional maupun internasional turut melengkapi perjalanan hidup ilmuwan pelopor paleoantropologi Indonesia tersebut sebelum wafat pada tanggal 17 Oktober 2007 silam di Yogyakarta.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok