Berita, Nasional

M Rizal Fadillah Soroti Pidato Prabowo Saking Gobloknya Jadi Tolol Hwa Ha Ha

Repelita.net

23 September 2026 13:37 WIB • 92 view

M Rizal Fadillah Soroti Pidato Prabowo Saking Gobloknya Jadi Tolol Hwa Ha Ha
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah melontarkan kritik pedas terhadap gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya.

Pernyataan tajam tersebut dirilis pada tanggal 22 September 2026 menanggapi isi pidato kepala negara yang dinilai kerap melontarkan ungkapan kontroversial.

ADVERTISEMENT

Gaya berpidato tanpa teks yang kerap disampaikan Prabowo dinilai memicu slip lidah sebagai konsekuensi dari emosi yang membakar kendali pembicaraannya.

Dalam acara Hari Lahir Partai Amanat Nasional ke-28 di JICC Jakarta pada tanggal 18 September 2026, Prabowo sempat menyinggung sikap kaum intelektual.

Kalangan pakar dan cendekiawan disebut oleh presiden masuk ke dalam ruang fitnah, meski tidak dijelaskan secara rinci bentuk fitnah yang dimaksud.

Banyak pihak menilai pidato tanpa naskah tersebut sering terpancing oleh riuh tepuk tangan audiens serta celetukan responsif dari kumpulan massa.

Menanggapi sindiran tersebut, kalangan pengamat menyebut bahwa diksi kasar berbalas kasar bisa saja terjadi di antara para pihak yang saling mengkritik.

Sejumlah warganet turut mengingatkan berbagai rekam jejak pernyataan kontroversial terkait hitung-hitungan angka maupun kalkulasi ekonomi yang pernah disampaikan.

Kebiasaan presiden yang kerap mengulang kata saya dalam pidatonya turut dianalisis dari sudut pandang psikologis sebagai bentuk ekspresi ego tertentu.

Kritik tajam juga diarahkan pada aspek stabilitas emosi dan kesehatan kejiwaan pemimpin negara agar roda pemerintahan berjalan di jalur yang aman.

Kondisi pengendara negara diibaratkan seperti sopir kendaraan yang harus dipastikan sehat pikiran dan jiwanya agar tidak terjadi kecelakaan fatal.

Parodi penolakan kepemimpinan masa depan turut disuarakan melalui kutipan lirik lagu dangdut populer sebagai bentuk ekspresi kejenuhan politik.

Masa kepemimpinan nasional satu periode ini dinilai sudah berjalan dengan gaya kebijakan yang serba cepat tanpa kalkulasi matang.

Evaluasi kritis dari para pengamat ini diharapkan menjadi catatan serius bagi pengambil kebijakan dalam mengelola dinamika bangsa ke depan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung