Repelita Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia akhirnya angkat bicara menanggapi kabar liar yang menyeret namanya dalam skandal dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan tegas Bahlil Lahadalia tersebut terekam dalam tayangan video di kanal YouTube Official iNews yang dipublikasikan pada Sabtu, 7 November 2026.
ADVERTISEMENT
Di hadapan forum partainya, Bahlil menyatakan dukungan penuh terhadap aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas dan secara transparan praktik penyadapan ilegal yang menjerat mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Ia mengungkapkan bahwa bukan hanya kepala negara yang menjadi sasaran penyadapan, melainkan dirinya sendiri turut menjadi korban peretasan komunikasi tersebut.
"Tidak hanya kepala negara yang disadap, saya pun disadap, soalnya awak pun jadi disadap dan saya takut juga itu berani disadap karena telepon saya itu kan kelakuan siang dan malam kan ketahuan semua di situ," ujar Bahlil Lahadalia.
Bahlil mengecam keras beredarnya narasi di media sosial maupun siniar yang menuduh adanya seorang ketua umum partai politik menggelar rapat bersama para jenderal tersangka tiga jam sebelum penangkapan.
Menurutnya, tuduhan yang mulai diarahkan kepada dirinya tersebut merupakan fitnah keji serta upaya pembunuhan karakter untuk mengadu domba dan merusak soliditas internal Partai Golkar yang tengah mencatatkan kenaikan elektabilitas.
"Bagaimana mungkin saya bisa ikut mengatur penyadapan sementara saya juga disadap," tegas Bahlil membantah keterlibatannya dalam operasi ilegal tersebut.
Ia memberikan tenggat waktu selama tiga kali dua puluh empat jam kepada pihak-pihak yang menyebarkan kabar bohong dan selebaran provokatif untuk segera menyampaikan klarifikasi sebelum dirinya melayangkan somasi dan menempuh jalur hukum.
Selain meminta kepolisian membuka secara terang benderang siapa saja pihak yang terlibat dalam pertemuan tersebut, Bahlil menegaskan dirinya tidak akan mundur sejengkal pun menghadapi upaya pecah belah dari pihak luar.
"Saya mempunyai falsafah pelaut ini sekali layar berkembang pantang surut untuk kembali, saya punya prinsip mati di medan perang jauh lebih berharga dan bermartabat daripada menjadi pengkhianat atau kembali dalam pertarungan," tutup Bahlil Lahadalia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok