Berita, Timur Tengah

Trump Optimis Perang Iran Berakhir, Ini Isi Negosiasi Damai AS

Repelita.net

07 May 2026 19:09 WIB • 818 view

Trump Optimis Perang Iran Berakhir, Ini Isi Negosiasi Damai AS
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme bahwa perang dengan Iran dapat segera berakhir melalui jalur diplomasi, seraya mengklaim pembicaraan dengan Teheran dalam beberapa hari terakhir berjalan "sangat baik".

"Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

ADVERTISEMENT

Dalam wawancara dengan PBS News, Trump bahkan mengatakan perang dapat "berakhir dengan cepat" apabila Iran bersedia menerima semua syarat yang diajukan Washington.

"Saya pikir ini memiliki peluang yang sangat bagus untuk berakhir, dan jika tidak berakhir, kita harus kembali membombardir mereka habis-habisan," tegas Trump mengancam.

Kesepakatan yang tengah dirundingkan antara kedua negara disebut berbentuk nota kesepahaman satu halaman yang memuat 14 poin sebagai kerangka penghentian perang.

Isi negosiasi tersebut mencakup penghentian seluruh program pengayaan uranium oleh Iran selama 12 hingga 15 tahun sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi AS.

Selain itu, Iran juga diminta untuk memindahkan seluruh stok uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri, dengan Trump menegaskan bahwa material tersebut "dikirim ke Amerika Serikat."

Iran disebut harus berjanji tidak mengoperasikan seluruh fasilitas nuklir bawah tanahnya, serta kedua pihak sepakat membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz paling lambat 30 hari setelah perjanjian ditandatangani.

Trump sebelumnya sempat meluncurkan operasi militer "Project Freedom" untuk mengawal kapal-kapal dagang keluar dari Selat Hormuz, namun operasi itu kemudian dijeda setelah muncul sinyal kemajuan diplomatik.

Sementara itu, pemerintah Iran masih melakukan peninjauan mendalam terhadap proposal AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan dan belum memberikan respons resmi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa "rencana dan proposal AS masih ditinjau oleh Iran" sebelum nantinya disampaikan kepada pihak Pakistan.

Sebaliknya, sejumlah pejabat tinggi Iran justru mengecam isi proposal tersebut, dengan anggota parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyebut dokumen itu "lebih merupakan daftar keinginan Amerika daripada kenyataan."

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Ghalibaf juga menegaskan bahwa Washington berupaya memaksakan rezimnya dengan "blokade laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media" untuk memaksa Iran menyerah.

Satu isu terbesar yang masih menjadi ganjalan dalam negosiasi adalah status kendali Iran atas Selat Hormuz, yang hingga kini ditegaskan Teheran sebagai garis merah yang tidak bisa ditawar.

Meski peluang diplomasi mulai terlihat, ketegangan di laut masih terus berlangsung dengan adanya aksi saling serang dan pencegatan kapal oleh kedua pihak di kawasan selat strategis tersebut.

Menteri Luar Negeri Pakistan selaku mediator menyatakan optimisme bahwa momentum saat ini dapat mengarah pada kesepakatan abadi yang menjamin perdamaian dan stabilitas kawasan.

"Kami sangat berharap momentum saat ini akan mengarah pada kesepakatan abadi yang menjamin perdamaian dan stabilitas yang langgeng bagi kawasan dan sekitarnya," tulis Perdana Menteri Shehbaz Sharif di platform X.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan final dari kedua belah pihak, sementara dunia internasional terus mencermati apakah negosiasi ini benar-benar akan mengakhiri konflik atau kembali menemui jalan buntu seperti sebelumnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung