Repelita [Jakarta] - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah berani dengan menghidupkan kembali skema Bond Stabilization Fund (BSF) guna membendung anjloknya nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas pasar obligasi negara.
Kebijakan ini diambil sebagai bentuk kontribusi nyata pemerintah dalam membantu Bank Indonesia meredam pelarian modal asing yang telah memicu lonjakan biaya utang pemerintah secara drastis dalam beberapa bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
Purbaya menyatakan optimisme tingginya terhadap instrumen ini dan menegaskan kemandirian otoritas fiskal dalam menstabilkan ekonomi nasional melalui pernyataannya yakni "Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri," pada Senin, 11 Mei 2026.
Data menunjukkan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun telah melompat dari angka 5,9 persen di akhir tahun lalu hingga menyentuh kisaran 7 persen pada April 2026, sebuah kenaikan yang dinilai sangat mengkhawatirkan bagi beban anggaran negara.
Pemerintah berencana menyerap dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) serta cadangan fiskal lainnya untuk melakukan intervensi langsung dengan membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder jika volatilitas pasar meningkat.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung turut mempertegas urgensi kebijakan ini dengan membeberkan tujuan utamanya yakni “Tujuannya untuk menjaga agar yield tidak berdongkrak naik terlalu signifikan,” demi mengamankan arus modal tetap bertahan di dalam negeri.
Sejumlah pakar ekonomi dari CORE dan Indef menilai strategi ini cukup efektif untuk menghentikan kepanikan pasar dalam jangka pendek, namun mereka memperingatkan adanya risiko besar jika pemicu pelemahan rupiah berakar pada masalah ekonomi fundamental.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa ketergantungan pasar pada intervensi pemerintah dapat menciptakan gangguan harga yang tidak jujur serta potensi munculnya perilaku spekulatif dari para investor global.
Yusuf menyampaikan kekhawatirannya mengenai dampak jangka panjang terhadap independensi kebijakan dengan menyatakan "Kalau koordinasinya tidak jelas, pasar bisa mulai membaca adanya dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter, dan itu justru bisa menaikkan premi risiko," tegasnya.
Selain itu, terdapat lima risiko krusial yang mengintai, mulai dari beban fiskal yang justru membengkak hingga ancaman moral hazard di mana investor hanya akan berani masuk saat harga dijaga oleh uang negara.
Pengamat menekankan bahwa kekuatan BSF akan sangat terbatas jika defisit anggaran terus melebar dan kepercayaan investor terhadap kredibilitas fiskal pemerintah menurun di tengah situasi ketidakpastian global yang masih tinggi.
Langkah ini diharapkan menjadi shock absorber yang kuat, namun pemerintah didesak untuk tetap fokus pada penguatan fondasi ekonomi riil dan pendalaman pasar keuangan domestik agar tidak selamanya bergantung pada intervensi darurat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok