Berita, Nasional

Sambut Prabowo dengan Al-Ahzab, Gontor Layangkan Kritik Tajam Berbalut Adab Pesantren

Repelita.net

24 September 2026 19:11 WIB • 94 view

Sambut Prabowo dengan Al-Ahzab, Gontor Layangkan Kritik Tajam Berbalut Adab Pesantren
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak resepsi syukuran seratus tahun Pondok Pesantren Modern Gontor Darussalam di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026.

Kedatangan kepala negara disambut secara khusus oleh jajaran pimpinan pondok melalui pelantunan ayat suci Al-Qur'an dari Surah Al-Ahzab ayat tujuh puluh hingga tujuh tiga.

ADVERTISEMENT

Pemilihan rangkaian ayat suci tersebut dinilai bukan merupakan sebuah kebetulan semata, melainkan mengandung pesan moral dan kebangsaan yang sangat mendalam.

Wartawan senior Edy Mulyadi menilai penyambutan tersebut sebagai bentuk teguran yang sangat elegan, santun, namun langsung menghujam jantung kekuasaan.

Tradisi pesantren yang menjunjung tinggi adab selalu menyisipkan pesan substantif dalam setiap pemilihan ayat formal guna mengingatkan para pemimpin bangsa.

Petikan ayat tujuh puluh menyerukan kepada orang beriman untuk bertakwa kepada Allah serta senantiasa mengucapkan perkataan yang benar atau qaulan sadida.

Sementara ayat tujuh puluh satu menjanjikan perbaikan amal serta ampunan dosa bagi siapa saja yang taat kepada aturan Sang Pencipta beserta rasul-Nya.

Dalam pandangan kepemimpinan nasional, lisan seorang pemimpin berfungsi sebagai kompas publik yang menuntut keselarasan antara retorika podium dan kenyataan lapangan.

Kenyataan hari ini sering memperlihatkan jurang pemisah antara klaim keberhasilan ekonomi pemerintah dengan jeritan rakyat akar rumput yang terhimpit kebutuhan hidup.

Pidato kenegaraan yang kerap dipenuhi angka statistik pertumbuhan ekonomi dinilai berbanding terbalik dengan gelombang pemutusan hubungan kerja serta mahalnya harga bahan pokok.

Penggunaan diksi yang tidak pantas di ruang publik turut disoroti karena pidato seorang kepala negara disaksikan oleh puluhan juta rakyat secara luas.

Ayat tujuh puluh dua dalam surat yang sama mengupas beban berat amanah kekuasaan ketika langit, bumi, dan gunung menolak untuk memikulnya.

Manusia yang bersedia memikul amanah tersebut justru kerap terjebak dalam sifat zalim dan bodoh apabila kekuasaan disalahgunakan demi kelompok tertentu.

Keadilan hukum di tanah air dinilai masih tajam ke bawah namun tumpul ke atas bagi para pencuri uang negara serta kelompok oligarki terdekat.

Ayat tujuh puluh tiga memberikan peringatan keras mengenai sifat munafik serta bahaya pengkhianatan dari orang-orang yang berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Budaya asal bapak senang di lingkungan birokrasi membuat laporan yang sampai ke meja presiden sering kali tidak sesuai dengan penderitaan rakyat sebenarnya.

Pemberian nasihat melalui lantunan ayat suci tersebut diharapkan mampu menjadi cermin jujur bagi Istana dalam mengevaluasi kebijakan serta amanah kepemimpinan nasional (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung