Berita, Viral Sosmed

Hina Yurizal pasien BPJS, staf RSUD di Tasikmalaya ternyata anak anggota DPRD, ayah: Mau nangis saya

Repelita.net

06 August 2026 16:09 WIB • 641 view

Hina Yurizal pasien BPJS, staf RSUD di Tasikmalaya ternyata anak anggota DPRD, ayah: Mau nangis saya
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Perasaan duka mendalam dan rasa terkejut tak terbendung menyelimuti Ade Lukman setelah mendapati nama anak kandungnya yang berinisial NZ mendadak terseret dalam gelombang kecaman publik di media sosial.

Orang tua pelaku mengaku sangat terpukul hingga menahan tangis saat pertama kali mendengar kabar mengenai perilaku putrinya yang mengutarakan kalimat tidak pantas di ruang digital.

ADVERTISEMENT

"terpukul sekali yang namanya orang tua, kaya mau nangis saya dengarnya," ucap Ade, Rabu (5/8/2026).

Meskipun demikian, Ade mengaku belum sempat bertatap muka maupun bertukar pikiran secara langsung dengan NZ guna menggali latar belakang kejadian tersebut.

Kesempatan untuk meminta penjelasan terhalang karena sang anak sudah lebih dahulu pergi bekerja pada pagi hari.

Sementara itu, Ade baru saja kembali dari perawatan medis di rumah sakit sehingga belum sempat melakukan klarifikasi secara mendalam.

"Kebetulan tadi pagi sudah berangkat kerja, dan belum sempat ngobrol apa-apa, dan sekarang baru datang dari rumah sakit, belum diinterograsi kayak gimana," kata Ade.

Menghadapi persoalan ini, Ade berkomitmen untuk memberikan pembinaan khusus agar sang anak lebih matang dan berhati-hati dalam memanfaatkan platform digital.

Pemahaman mengenai norma hukum serta etika berkomunikasi di ruang publik dipandangnya sebagai hal mutlak yang harus dipatuhi oleh setiap pengguna media sosial.

Ia berharap peristiwa tragis ini menjadi bahan evaluasi berharga agar tindakan serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

"Jadi begini masalahnya saya menginginkan cara bermedsos harus yang bijak, harus standar umum jangan melabrak aturan yang sudah dibuat, termasuk masalah UU ITE seperti itu harapan saya," jelasnya.

Ade menyampaikan bahwa NZ merupakan putri sulung dari empat bersaudara di keluarganya.

"Saya tentu kaget dan sedih sebagai orang tua, dan kebetulan ini anak pertama dari empat bersaudara," tegasnya.

Mengenai interaksi harian, ia mengungkapkan bahwa intensitas komunikasi mereka memang relatif terbatas karena faktor domisili yang terpisah di dua lokasi berbeda.

"Jadi gini kedekatan biasa saja, dan kebetulan saya tinggal di Gobras Tamansari, kadang si Kaka di Sumelap jadi jarang komunikasi secara intens," kata Ade.

Sebagai langkah awal penyesalan, Ade telah menginstruksikan putrinya melalui sambungan telepon untuk segera membuat rekaman video permohonan maaf atas kegaduhan yang dipicu oleh ucapannya.

"Kebetulan tadi pagi via tlpn sama adiknya supaya bikin klarifikasi dan permohonan maaf, dan sudah di share videonya juga," ungkap Ade.

Polemik ini bermula dari unggahan keluhan mendiang Yurizal di platform Threads mengenai lamanya proses mendapatkan ruang rawat inap di rumah sakit hingga delapan jam dengan fasilitas BPJS Kesehatan pada 22 Juli 2026.

Curhatan tersebut memicu beragam tanggapan dari netizen termasuk oknum tenaga kesehatan, di mana NZ menyematkan komentar tajam yang merendahkan almarhum.

"Yuriz orang miskin harta, miskin ilmu, miskin akal, tapi pengen di istimewain. 8 jam sangat sangat wajar apalagi kata lo itu RS rujukan nasional. Mungkin sekelas RSHS Bandung atau RSCM Jakarta kan? boleh gue bilang sesuatu? LO GOBLOK BANYAK BACOT," tulis NZ.

Serangan komentar negatif tersebut berdampak fatal terhadap kondisi kesehatan mental serta fisik Yurizal hingga kritis dan akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 31 Juli 2026.

"Ketika baca threads ini, Alm kondisi menurun dan sudah tidak megang alat komunikasi, airplane mode karena enggak mau buka social media lagi," kata Firhan Arief, sahabat Yurizal. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung