Repelita Jakarta - Ruang digital di Inggris saat ini tengah dihebohkan oleh perdebatan sengit serta gelombang sentimen negatif yang diarahkan kepada seorang aparat penegak hukum Muslimah bernama Fiona Sheikh Omar.
ADVERTISEMENT
Tekanan publik tersebut mencuat tidak lama setelah dirinya dinobatkan sebagai peraih penghargaan Kontribusi Luar Biasa Perempuan dalam Kepolisian dalam agenda konferensi tahunan Federasi Kepolisian pada hari Rabu pekan lalu.
Munculnya gelombang ujaran rasis serta keraguan atas profesionalisme kerja tersebut memicu pimpinan tertinggi kepolisian setempat untuk turun tangan memberikan pembelaan.
Apresiasi berupa penghargaan itu sejatinya diberikan atas dedikasi serta kepemimpinannya dalam menginisiasi sebuah gerakan nasional yang dikenal dengan tajuk Hijab Project atau Proyek Hijab.
Gerakan tersebut berhasil merumuskan standardisasi seragam baru yang ramah bagi polisi Muslimah sekaligus mewujudkan iklim institusi kepolisian yang lebih inklusif serta beragam.
Akan tetapi sesaat pasca pengumuman prestasi tersebut dirilis ke publik, konstelasi di media sosial justru berubah menjadi arena perundungan yang masif dan terstruktur.
Kelompok pengkritik kedapatan memanfaatkan sebuah dokumentasi visual lama yang pernah diunggah oleh sang polisi wanita melalui akun LinkedIn pribadinya pada tahun 2024 silam.
Foto tersebut menampilkan pose dirinya yang tengah memegang unit senjata api bersama seorang rekan sejawat hingga dijadikan celah untuk meragukan kompetensi taktisnya.
Menempatkan jari pada pelatuk adalah kesalahan fatal. Ini jauh di bawah standar keselamatan. Saya berharap standar pelatihan bagi petugas bersenjata tidak diturunkan, tulis salah satu komentar netizen.
Sentimen negatif yang awalnya dibungkus sebagai kritik profesionalitas dengan cepat bergeser menjadi aksi perundungan berbau rasisme dan kampanye Islamofobia.
Merespons masifnya serangan tersebut, Komisaris Kepolisian Metropolitan London bernama Sir Mark Rowley langsung menyampaikan kecaman keras dalam program siaran radio PM di BBC Radio 4.
Federasi Kepolisian mengunggah berita yang sangat positif mengenai penghargaan tersebut. Namun, gelombang hinaan yang menjijikkan, rasis, anti-Islam, dan misoginis yang kemudian muncul sungguh mengerikan, ucap Rowley pada hari Ahad tanggal 25 Oktober 2026.
Pimpinan kepolisian itu menegaskan bahwa aparat perempuan dari kelompok minoritas etnis dan agama merupakan elemen yang paling rentan menjadi korban perundungan siber.
Berdasarkan pemaparannya, tantangan serupa juga dirasakan oleh anggota parlemen wanita yang pengawalannya turut melibatkan peran dari tim Fiona Sheikh Omar.
Dunia ini sungguh menyedihkan bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan publik, tutur pria dengan jabatan komisaris tersebut saat mengekspresikan keprihatinannya.
Di sisi lain, tidak sedikit pula dari kalangan pengguna internet yang mengalirkan pesan dukungan serta solidaritas mendalam bagi sang polisi wanita.
Selamat kepada polisi perempuan berhijab pertama di timnya. Islamofobia adalah kanker di Inggris, dan hinaan yang ia terima merupakan sesuatu yang memalukan, ketik seorang warganet di kolom komentar.
Netizen lainnya juga kedapatan mengirimkan untaian kalimat penyemangat demi mengapresiasi ketangguhan perempuan Muslimah dalam menjalani profesi di bidang keamanan.
Bekerja sebagai polisi adalah pekerjaan yang berat, dan bisa menjadi lebih sulit ketika Anda seorang Muslimah. Teruslah berkarya, demikian bunyi tulisan dari pengguna media sosial lainnya.
Menghadapi situasi pelik tersebut, sang perwira polisi Muslimah justru tetap memperlihatkan pembawaan yang tenang serta penuh dengan kerendahan hati.
Melalui sebuah rekaman visual yang dipublikasikan oleh Federasi Kepolisian Metropolitan, dirinya menuturkan rasa syukur mendalam atas apresiasi bergengsi yang telah ia terima.
Dirinya pun menegaskan komitmen kerja untuk terus konsisten memperluas keterwakilan kaum perempuan serta memperkuat nilai inklusivitas di tubuh kepolisian Inggris.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
PC Fiona Shaik Umar has been awarded at the Annual Police Federation Conference for her outstanding contribution to women in policing. She was the first hijab-wearing officer in her unit, and has championed the voices of Muslim women in policing https://t.co/YG6uR3X5lU
— Metropolitan Police Federation (@MPFed) October 22, 2026
Congratulations PC Fiona Shaik Umar The first Muslim hijab-wearing police woman in her team. The Islamophobic abuse she received online is a disgrace. Islamophobia is a cancer in Britain .
— Zara Hussain (@zarahussain999) October 22, 2026
Commissioner Sir Mark Rowley has responded to the unacceptable online abuse directed at a Met officer who received an award at yesterday's annual Police Federation Conference. PC Fiona Shaik Umar was recognised for the outstanding contribution she has made for women in policing. https://t.co/KfqAdNAa4f
— Metropolitan Police (@metpoliceuk) October 22, 2026
Everything WRONG with this picture: 1- she’s a muslim with a rifle❌ 2- she’s got her finger on the trigger ❌ 3- she’s flagging/shooting the guy ❌ 4- she’s a muslim with a rifle❌ 5- she’s a muslim with a rifle❌ @metpoliceuk is part of the muslim rape gangs. https://t.co/esQn07eMkq
— Valentina Gomez (@ValentinaForUSA) October 22, 2026
Why should the police uniform be adapted to accommodate Islam? Insisting the police change their uniform is intolerant. As the first hijab-wearing officer within her policing area, Fiona has used her position to advocate for the needs of Muslim women in policing and help create a more inclusive culture across the service.
— Keyboard Politics (@HoneywellCassie) October 23, 2026
Met chief says PC's award marred by racist abuse ➡️ https://t.co/j7kOqX0m5e https://t.co/NcLsu1iDA3
— BBC London (@BBCLondonNews) October 23, 2026