Repelita Jakarta - Aksi unjuk rasa inklusif bertajuk Indonesia Sadar yang memadati kawasan Bundaran HI ikut diwarnai metode protes unik dari kalangan pembuat konten.
ADVERTISEMENT
Seorang pembuat konten kreatif Dea Ayu dilaporkan turut hadir melebur bersama aliansi massa sipil pada hari Rabu tanggal 28 Oktober 2026.
Keterangan mengenai partisipasi figur kreatif tersebut sebelumnya disebarluaskan secara natural melalui unggahan akun jejaring sosial milik @idbaruid.
Dea Ayu memanfaatkan momentum tersebut untuk membagikan pembalut secara gratis kepada para perempuan peserta aksi sebagai wujud protes atas tarif fiskal.
Dirinya mengkritisi pengenaan beban PPN sebesar 11 persen terhadap komoditas pembalut yang sejatinya merupakan kebutuhan biologis mendasar bagi kaum wanita.
Selain membagikan kebutuhan sanitasi, ia juga membagikan bunga mawar putih sembari menyuarakan pandangan kritisnya menonjolkan fluktuasi situasi sosiopolitik tanah air.
Unggahan dokumentasi aktivitas tersebut memicu respons interaksi jurnalisme warga dari pengguna internet, termasuk ulasan bernada edukasi dari akun @riarestin.
Netizen tersebut menuangkan argumen tertulis persis apa adanya yang berbunyi Kenapa dipajakin? Krn pembalut sampah residu.. limbah B3. Gak bisa di daur ulang, dan kategori beracun.. 😭 ganti ke celana dalam khusus atau cup.
Cuitan bernada miring terhadap latar belakang sang pembuat konten turut dilayangkan secara sinis oleh pemilik akun @theadityamans dengan komentar persis berbunyi Hasil jual apem.
Sentimen negatif berupa ejekan personal juga dituliskan persis tanpa perubahan oleh netizen @e.laksana_ yang menuangkan tulisan berbunyi Padahal gaji di ewenya dollar yak, sampe masuk porn hub. Bacotnya kosong doang.
Komentar bernada ketidaksukaan individu lainnya dikirimkan secara singkat persis oleh akun @ashleychou07 melalui cuitan berbunyi Taik taik Badan Lu tu urus Mbak.
Di tengah riuhnya kolom komentar, sebuah refleksi mendalam dari kacamata mantan aktivis lapangan disampaikan oleh netizen pemilik akun @mr_oninow.
Ia menuliskan catatan kesaksian pribadinya secara utuh dan persis tanpa ada pengubahan kalimat sedikit pun yang berbunyi pengalaman saya sendiri sebagai pendemo dulu tapi sudah tobat kalau gak percaya ya nanti lihat aja aku berdoa jika nanti pemerintah baru terus gak ada demo lagi periksa aja kalau gak percaya pasti oligarki dan asing lagi enak mengeruk alam Indonesia dan ketika itu pemerintah lagi di kendalikan asing dan oligarki pemerintah hanya jadi pion yang punya kuasa oligarki dan asing kalau seperti jarang ada demo.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads