Berita, Timur Tengah

Trump-Netanyahu Kompak Blokade Iran, Teheran Siap Balas Serangan

Repelita.net

30 April 2026 13:25 WIB • 1,029 view

Trump-Netanyahu Kompak Blokade Iran, Teheran Siap Balas Serangan
Foto: Istimewa

Repelita Washington D.C. - Peta kekuatan di Timur Tengah kembali memanas menyusul komunikasi strategis tingkat tinggi antara Washington dan Tel Aviv mengenai nasib Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan niatnya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk terus melanjutkan blokade laut yang mencekik terhadap Republik Islam.

ADVERTISEMENT

Langkah drastis ini diambil karena Trump menganggapnya sebagai cara paling optimal untuk memaksa kapitul penuh Teheran tanpa harus melakukan invasi darat.

Menurut laporan dari saluran televisi publik Israel, Kan, pada Senin, 26 April 2026, Trump menyebut blokade ini sebagai "cara optimal" untuk menekan para pemimpin Iran.

Bukan sekadar ancaman kosong atau retorika politik belaka, kebijakan ini sudah menjadi doktrin resmi yang dikeluarkan Gedung Putih.

Trump bahkan telah menginstruksikan para jenderal di militer Amerika Serikat untuk bersiap melancarkan serangan besar-besaran jika blokade tersebut gagal menekan Teheran.

Sikap agresif ini diamini penuh oleh Netanyahu yang menjadikan isu Iran sebagai prioritas utama keamanan nasional Israel.

Pemimpin Israel itu bahkan mengaku mendapat laporan harian dari Gedung Putih mengenai perkembangan terkini negosiasi dan situasi di Republik Islam.

Dalam rapat kabinet yang digelar pada Senin, 26 April 2026 lalu, Netanyahu mengungkapkan komunikasi intensif yang terjadi antara kedua sekutu dekat tersebut.

Ia menceritakan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance meneleponnya langsung dari atas pesawat kepresidenan untuk membahas perkembangan situasi.

"Dia memberi saya penjelasan rinci, seperti yang dilakukan para anggota pemerintahan ini setiap hari," ujar Netanyahu sebagaimana dikutip dari media India, Indian Express.

Dukungan penuh dari Israel pun diberikan tanpa syarat kepada kebijakan kontroversial yang diterapkan oleh pemerintahan Trump.

Netanyahu menegaskan dengan lantang bahwa negaranya mendukung penuh blokade Amerika terhadap semua pelabaran Iran, termasuk Selat Hormuz yang vital.

"Kami tentu saja mendukung sikap tegas ini, dan kami terus berkoordinasi secara konstan dengan Amerika Serikat," tegas sang perdana menteri.

Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam menghadapi ancaman sekutunya dua negara adidaya tersebut dengan nada yang sama kerasnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan yang sangat tegas membakar semangat perlawanan rakyatnya.

Ia sama sekali tidak gentar dengan ancaman blokade berkepanjangan yang dilontarkan oleh Trump dari balik meja kerjanya di Gedung Putih.

"Anda boleh memberlakukan blokade apa saja yang Anda inginkan — kami mampu mengambil tindakan sendiri," kata Araghchi dengan penuh keyakinan.

Pernyataan ini bukanlah sekadar retorika diplomatik untuk konsumsi publik, melainkan sinyal keras bahwa Iran telah mempersiapkan skenario terburuk.

Bahkan sebelum blokade diumumkan secara resmi oleh Washington, Republik Islam sudah bergerak cepat melakukan langkah-langkah antisipatif.

Pada akhir pekan lalu, Araghchi melakukan serangkaian diplomasi kilat yang mengesankan ke berbagai negara sahabat.

Ia bolak-balik terbang ke Islamabad, Pakistan, untuk bertemu dengan para pemimpin setempat membahas koordinasi menghadapi tekanan AS.

Dari sana, ia bertemu dengan pimpinan Oman yang dikenal sebagai mediator handal dalam konflik Timur Tengah.

Kemudian Araghchi terbang ke Moskow untuk bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin guna meminta dukungan.

Di Rusia, Araghchi mendapat dukungan penuh dan pernyataan simpatik dari Putin yang menyanjung ketahanan rakyat Iran.

Presiden Rusia itu memuji perjuangan heroik dan berani rakyat Iran dalam mempertahankan kedaulatan mereka di tengah tekanan asing.

Dukungan moral dan politik dari Moskow ini sangat penting bagi Teheran untuk menjaga kekuatan tawar di tengah tekanan maksimal AS.

Keputusan Trump untuk melanjutkan dan bahkan memperketat blokade sebenarnya bukan kebijakan yang muncul secara tiba-tiba.

Kebijakan ini adalah kelanjutan dari kegagalan negosiasi diplomatik di Islamabad beberapa waktu lalu yang kandas di tengah jalan.

Menurut laporan mendalam dari The American Prospect, negosiasi antara AS dan Iran sempat menunjukkan kemajuan yang menggembirakan.

Republik Islam setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai tanda itikad baik demi perdamaian kawasan.

Akibat kabar baik tersebut, pasar saham global sempat melonjak dan harga minyak mentah dunia pun turun drastis.

Namun secara mengejutkan, Trump membalikkan keadaan hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan hampir tercapai.

Beberapa jam setelah Araghchi mengumumkan selat akan dibuka, Trump menutupnya lagi lewat cuitan di media sosial Truth Social.

"Trump akan melanjutkan blokade Selat Hormuz sampai transaksi kami dengan Iran 100% selesai," tulis Trump di akun pribadinya.

Kebingungan pun melanda semua pihak, termasuk sekutu-sekutu Eropa yang selama ini mendukung pendekatan diplomatik terhadap Iran.

Republik Islam akhirnya menyatakan dengan tegas tidak akan membuka kembali selat tersebut setelah melihat kelicikan taktik AS.

Beberapa kapal tanker yang sudah bersiap berlayar pun diputar balik arahnya menuju pelabuhan asal.

Yang lebih buruk lagi, kapal perang Amerika Serikat menembaki kapal kargo milik Teheran dan menyitanya secara ilegal di perairan internasional.

Insiden penembakan dan perampasan inilah yang membuat Araghchi dan para pemimpin Iran semakin yakin akan satu hal.

Bagi mereka, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump sudah tidak bisa lagi dipercaya dalam setiap janji dan kesepakatan.

Blokade yang diberlakukan Trump ini bukan sekadar simbol kekuasaan, dampaknya sudah mulai terasa secara nyata di lapangan.

Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa Iran sebelumnya mengekspor sekitar 1,84 juta barel minyak per hari pada bulan Maret lalu.

Angka ekspor tersebut turun menjadi 1,71 juta barel per hari di bulan April, dan kini terancam jatuh drastis hingga menyentuh angka nol.

Lebih dari 180 juta barel minyak mentah Iran saat ini masih mengapung di laut tanpa kepastian pembeli.

Sekitar 187 kapal tanker raksasa bermuatan penuh terjebak di dalam perairan Teluk akibat blokade ketat yang diberlakukan AS.

Jika blokade terus berlangsung tanpa akhir, para analis memperkirakan Iran hanya punya sisa kapasitas penyimpanan untuk sekitar 20 hari produksi.

Namun, Iran memiliki strategi balasan yang tidak kalah mengerikan untuk membuat lawan berpikir dua kali.

Mereka mengancam akan membalas dengan menyerang infrastruktur minyak negara-negara Teluk yang menjadi sekutu dekat Amerika Serikat.

"Jika pelabuhan kami terancam, tidak ada satu pelabuhan pun di kawasan Teluk yang akan aman," demikian peringatan tegas yang dilontarkan Teheran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perekonomian global karena sekitar seperlima minyak dan gas dunia melewati celah sempit ini.

Kini lalu lintas pelayaran di selat tersebut hampir lumpuh total akibat konflik dan ketidakpastian yang berkepanjangan.

Harga minyak mentah dunia pun kembali melonjak dan menembus di atas angka seratus dolar Amerika per barel.

Pertanyaan besar yang menggantung di udara kini adalah seberapa jauh Donald Trump akan melangkah dalam kebijakan nekatnya ini.

Menurut laporan dari media kawasan Al-Monitor, Trump telah memerintahkan militer AS untuk menyiapkan berbagai opsi serangan besar-besaran jika blokade gagal.

Panggilan telepon antara Trump dan Netanyahu juga secara rutin membahas skenario militer ini sebagai opsi terakhir.

Sementara itu, dunia menunggu dengan cemas karena organisasi internasional seperti PBB, China, dan Rusia mendesak agar selat segera dibuka kembali.

Namun Amerika Serikat dan sekutu-sekutu dekatnya bersikukuh dengan pendirian mereka tanpa mau kompromi.

Bagi Trump, momen ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa kebijakan tekanan maksimal benar-benar bisa memaksa kapitulasi musuh.

Tetapi bagi Iran, ini adalah masalah harga diri dan kedaulatan yang tidak bisa ditawar dengan imbalan apapun.

Menteri Pariwisata Iran bahkan sempat mengolok-olok Trump sebagai figur yang tidak stabil dan delusional dalam menilai kekuatan negara lain.

Teheran berulang kali menegaskan mereka tidak akan pernah tunduk pada ancaman dan intimidasi dari negara manapun termasuk adidaya.

Araghchi sendiri sebelumnya sudah mengkritik habis pendekatan Amerika Serikat yang dianggapnya tidak konsisten dan penuh kebohongan.

Dalam wawancara eksklusif dengan AFP, ia menyebut bahwa negosiasi sebelumnya gagal karena tuntutan Washington yang berlebihan dan tidak realistis.

Washington disebut "banyak mau" dan sering mengubah target pembicaraan sesuka hati tanpa memedulikan kepentingan Iran.

Kini, dengan blokade yang terus berlanjut dan tanpa titik temu, peluang untuk mencapai perdamaian semakin tipis dan menghilang.

Yang tersisa hanyalah ketegangan yang setiap saat bisa meledak menjadi konflik terbuka yang lebih besar.

Di tengah semua ketidakpastian ini, Trump dan Netanyahu terus berkoordinasi secara intensif untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu, Teheran dengan Araghchi di garda depan terus bersiap untuk membalas setiap langkah agresi yang dilancarkan musuh.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung