Berita, Nasional

Pengamat Sebut Prabowo Dendam Soal Indonesia Gelap, Ini Analisis Psikologinya

Repelita.net

30 April 2026 18:41 WIB • 1,020 view

Pengamat Sebut Prabowo Dendam Soal Indonesia Gelap, Ini Analisis Psikologinya
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto kembali menyuarakan dengan lantang jargon “Indonesia terang, bukan gelap” di hadapan publik dalam sebuah acara kenegaraan.

Jargon tersebut disampaikan saat ia berpidato dalam acara Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional yang digelar di Cilacap pada Selasa, 29 April 2026.

ADVERTISEMENT

Video pidato tersebut dipastikan bukanlah rekaman lama, melainkan cuplikan terbaru yang disiarkan oleh sejumlah stasiun televisi nasional pada Rabu, 29 April 2026.

Namun yang menarik perhatian publik, frasa “Indonesia Gelap” justru terus diulang-ulang oleh Prabowo dalam pidatonya meskipun dengan nada penolakan yang tegas.

Fenomena pengulangan kata tersebut mengundang pertanyaan besar dari berbagai kalangan, termasuk para pengamat psikologi politik.

“Kenapa beliau kelihatannya dendam banget sama kata ‘Indonesia Gelap’?” ujar pengamat psikologi politik, Faizal, melalui akun media sosial X miliknya @zalkad pada Kamis, 30 April 2026.

Menurut Faizal, jawaban dari fenomena keanehan tersebut sebenarnya terletak pada teori-teori psikologi politik yang sudah mapan.

Setidaknya ada lima lapisan psikologis yang bekerja secara bersamaan di balik narasi “Indonesia Terang” versi Prabowo Subianto.

Lapisan pertama adalah teori compensatory conviction, di mana semakin seseorang ragu di dalam hatinya, semakin keras ia bersuara di luar.

“Pemimpin yang legitimasinya masih diperdebatkan secara psikologis terdorong untuk terus membuktikan diri,” ujarnya menjelaskan teori tersebut.

Karena itu, menurut Faizal, narasi “Indonesia terang” bukanlah sebuah pernyataan fakta objektif yang bisa diukur secara empiris.

“Itu deklarasi identitas: saya pemimpin negara yang berhasil,” kritik Faizal mengupas makna tersembunyi di balik jargon pengulangan tersebut.

Lapisan kedua adalah teknik scapegoating through ambiguity, di mana Prabowo tak pernah menyebut nama secara spesifik saat bicara soal pihak-pihak yang menimbulkan kegaduhan.

“Musuh yang kabur lebih berguna dari musuh yang konkret. Efeknya, siapapun yang kritis bisa dimasukkan ke kategori ‘pembuat gelap’,” jelasnya.

Akibatnya, masyarakat menjadi takut untuk bersuara kritis karena khawatir akan dicap sebagai bagian dari pihak yang ingin membuat Indonesia gelap.

Lapisan ketiga adalah upaya menutup cognitive dissonance, yaitu kesenjangan antara citra diri pemimpin dengan citra yang beredar di publik.

Mengutip pemikiran filsuf Prancis Michel Foucault, Faizal menyebut bahwa kekuasaan sejati adalah soal siapa yang berhak mendefinisikan realitas.

Ketika wacana publik dirasa tidak lagi terkontrol oleh penguasa, maka muncullah cognitive dissonance dalam diri pemimpin.

“Pidato berulang adalah upaya menutup gap itu. Bukan mengubah fakta, tapi mengubah cara fakta dibaca,” kata dia mengkritisi strategi komunikasi tersebut.

Lapisan keempat adalah in-group reinforcement, di mana pidato yang disampaikan sebenarnya tidak ditujukan untuk para pengkritik.

Para pengkritik, menurut Faizal, tidak akan pernah berubah pikiran hanya karena mendengar pidato berulang kali tentang Indonesia terang.

“Audiens yang disasar sebenarnya basis loyalis yang butuh konfirmasi emosional bahwa pemimpin mereka kuat,” ujarnya.

Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut sebagai ritual untuk memperkuat kohesi di dalam kelompok pendukung setia.

“Pidato bukan argumen rasional, tapi ritual kohesi kelompok. Tujuannya bikin solid kelompok pro status quo,” urainya lebih lanjut.

Lapisan kelima yang tak kalah penting adalah prinsip the lady doth protest too much yang diambil dari karya sastra klasik Shakespeare.

Dalam psikologi modern, ketika seseorang terlalu keras dan berulang kali membantah sesuatu, justru hal itulah yang patut dipertanyakan.

“Pemimpin yang benar-benar merasa aman dengan kekuasaannya tidak perlu berulang kali menegaskan bahwa segalanya baik-baik saja,” tegas Faizal.

Pengulangan narasi yang terus-menerus itu sendiri, menurutnya, adalah sebuah sinyal yang sangat kuat tentang adanya keraguan di dalam.

Faizal menyimpulkan dengan tegas bahwa perdebatan narasi ini sebenarnya bukan lagi soal Indonesia terang atau Indonesia gelap secara faktual.

Ini adalah soal psikologi seorang pemimpin yang belum selesai berdamai dengan legitimasi kekuasaannya sendiri di mata rakyat.

Kelima lapisan psikologis yang ia jabarkan, kata Faizal, bekerja secara bersamaan dan simultan, bukan hanya salah satunya saja.

“Lima lapisan itu bekerja bersamaan. Bukan salah satu, tapi semuanya sekaligus,” pungkas Faizal mengakhiri analisisnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung