Berita, Nasional

Mahfud MD Prediksi Nasib Gibran Pasca Putusan MA, Loyalis Jokowi Ungkit Dendam yang Dilampiaskan

Repelita.net

02 November 2026 00:04 WIB • 88 view

Mahfud MD Prediksi Nasib Gibran Pasca Putusan MA, Loyalis Jokowi Ungkit Dendam yang Dilampiaskan
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pembatalan surat keterangan penyetaraan ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka oleh Mahkamah Agung memicu reaksi luas dari berbagai tokoh publik.

Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai amar vonis peradilan tertinggi tersebut menyerahkan kelanjutan nasib jabatan publik Gibran kepada dinamika politik.

ADVERTISEMENT

Lewat keterangan di akun media sosial pribadinya pada Minggu, 1 November 2026, Mahfud menegaskan bahwa tindak lanjut atas posisi wakil presiden sepenuhnya menjadi ranah politisi.

“Vonis MA yang membatalkan Suket Setara SMA untuk Gibran sudah jelas. Follow up atas jabatannya sebagai Wapres terserah kepada politik, mau pilih jalan yang mana,” tulis Mahfud di akun X pribadinya, dilansir pada Minggu (1/11/2026).

Pakar hukum tata negara itu menambahkan bahwa dugaan persoalan administratif serta penggunaan dasar hukum penerbitan surat tersebut harus diproses ke jalur pidana.

Ia mendesak agar jajaran penyelenggara pemilu beserta instansi pendidikan terkait segera diperiksa guna mengusut tuntas masalah dokumen tersebut.

“KPU dan Dit. Dikdasmen seharusnya segera diperiksa,” tegasnya.

Mahfud menerangkan bahwa penggunaan diksi “batal” dalam vonis peradilan berkonsekuensi hukum ex tunc atau berlaku surut sejak awal diterbitkan.

Dengan demikian, dokumen penyetaraan pendidikan milik sang wakil presiden dinilai gugur secara hukum dan tidak pernah dianggap ada.

“Vonis MA terkait Suket Gibran menyatakan ‘batal’, bukan ‘membatalkan’. Ia adalah ex tunc, artinya berlaku retroaktif dan Suket itu dianggap tidak pernah ada sehingga penggunaannya dianggap tidak sah sejak awal,” tegas Mahfud.

Di sisi lain, loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Dede Budhyarto, melontarkan sindiran keras terkait kritik tajam yang terus diarahkan kepada Gibran.

Melalui narasi sindiran politik berjudul Cerita Pagi, Dede mengungkit rekam jejak rivalitas kontestasi politik masa lalu yang melibatkan tokoh pakar.

Ia menyebut adanya potensi dorongan emosional pribadi di balik gencarnya analisis hukum yang menyasar putra mantan presiden tersebut.

“Kini, mungkin dendam itu dilampiaskan kepada anak-nya tersebut melalui kepakarannya,” tulis Dede.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung