Repelita Teheran - Iran menyatakan keyakinannya bahwa blokade militer yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan di Selat Hormuz akan gagal mencapai tujuannya untuk menekan rezim di Teheran.
Kapal-kapal perang Angkatan Laut AS telah memblokade Selat Hormuz dari kedua sisi perairan sejak tanggal 13 April lalu setelah upaya perundingan damai putaran kedua antara Washington dan Teheran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan.
ADVERTISEMENT
Akibat blokade yang semakin ketat tersebut, kapal-kapal tanker minyak maupun kapal kargo yang akan masuk maupun keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran dicegat atau dipaksa putar balik oleh armada AS yang berjaga di kedua ujung selat.
Mohsen Rezaei, penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyebut bahwa blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan negaranya di Selat Hormuz tidak akan pernah mencapai tujuan yang diinginkan Washington.
Namun, Rezaei memberikan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat terus melanjutkan kebijakan blokade yang mencekik, maka opsi perang kembali masuk dalam daftar pertimbangan utama para komandan militer Iran.
Rezaei menegaskan bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebenarnya memiliki banyak cara dan strategi rahasia untuk menembus blokade Amerika Serikat.
Meskipun demikian, strategi-strategi tersebut belum dilaksanakan karena para komandan masih menunggu perkembangan situasi diplomatik dalam beberapa hari ke depan.
Menurut penasihat militer pemimpin tertinggi Iran tersebut, negara yang dipimpin oleh Mojtaba Khamenei sangat mungkin melakukan konfrontasi langsung untuk mematahkan kekuatan blokade di kedua sisi Selat Hormuz secara bersamaan.
Lebih lanjut, Rezaei mengungkapkan kemungkinan skenario mengerikan jika suatu saat nanti perang skala penuh kembali pecah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel.
Dalam prediksinya, perang berikutnya kemungkinan besar akan berfokus pada wilayah pesisir selatan Iran yang menjadi pintu masuk jalur minyak.
Konflik diprediksi akan meluas ke arah timur hingga mencapai kota Isfahan, dengan beberapa aktivitas tempur juga terjadi di bagian barat negara itu.
Rezaei memperingatkan bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dalam skenario terburuk bisa melibatkan pengeboman dan pembunuhan terarget di jalan-jalan ibukota Teheran.
Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat dan Israel pertama kali melancarkan serangan gabungan besar-besaran terhadap berbagai target militer di Iran pada tanggal 28 Februari lalu.
Serangan pembuka perang tersebut dibalas oleh Teheran dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta negara-negara regional lainnya.
Negara-negara yang menjadi sasaran balasan Iran adalah negara-negara Teluk yang diketahui menampung pangkalan dan aset militer Amerika Serikat.
Serangan udara gabungan AS-Israel pada gelombang pertama berhasil menewaskan lebih dari 3.300 orang, sebagian besar warga sipil tak berdosa.
Kematian massal tersebut terjadi sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada tanggal 7 April lalu.
Gencatan senjata yang rapuh tersebut berhasil dimediasi oleh pemerintah Pakistan yang bertindak sebagai penengah netral antara kedua belah pihak.
Menjelang berakhirnya batas waktu gencatan senjata dua minggu tersebut, Trump mengumumkan perpanjangan tanpa batas waktu.
Perpanjangan masa damai ini dilakukan atas permintaan langsung dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan kepala militer negaranya, Jenderal Asim Munir.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok