Berita, Nasional

[HEBOH] Bikin geleng kepala! Tempe MBG ditemukan di depan toilet dapur

Repelita.net

13 September 2026 12:54 WIB • 458 view

[HEBOH] Bikin geleng kepala! Tempe MBG ditemukan di depan toilet dapur
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Persoalan kebersihan serta manajemen tata kelola dapur pada fasilitas penyedia makanan dalam program makan bergizi gratis menuai sorotan tajam.

Kondisi tersebut mencuat menyusul temuan mengejutkan dari dinas kesehatan daerah setempat yang mendapati penyimpanan bahan pangan yang tidak higienis.

ADVERTISEMENT

Temuan itu didapati saat Dinkesda melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan, Selasa 8 September, menyusul dugaan keracunan yang dialami siswa SMA Negeri 1 Tunjungan.

Dinas kesehatan daerah menemukan temuan yang tidak lazim berupa tempe yang diletakkan tepat di depan pintu toilet dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Sukorejo 2, Kecamatan Tunjungan.

Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kebersihan bahan pangan karena berpotensi terkontaminasi bakteri membahayakan kesehatan.

Kepala Biro Humas dan Hukum BGN, Khairul Hidayati mengatakan, dapur SPPG tersebut kini telah disuspend.

BGN meminta agar tata kelola dapur diperbaiki sesuai Standar Operasional Prosedur.

Sudah disuspend ya, kata Hidayati seperti di lansir dari jawapos, Sabtu 12 September.

Kepala Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinkesda Blora, Tutik Rahayu mengatakan, penyimpanan bahan makanan di SPPG tersebut belum sepenuhnya sesuai SOP.

Pada intinya kita tadi melihat tempat penyimpanan makanannya tidak sesuai SOP, tidak ada palet, ujarnya.

Petugas di lapangan juga mendapati adanya genangan sisa air daging di lantai area pengolahan makanan.

Di sekitar lokasi tersebut terdapat komoditas pangan seperti beras, telur, timun, serta cabai yang diletakkan langsung tanpa menggunakan palet alas.

Sejumlah bahan bumbu dapur penting seperti bawang putih terpantau masih dalam kondisi terbuka tanpa wadah penutup.

Komoditas lain seperti bawang merah, cabai merah giling, serta lengkuas juga ditemukan berada di atas wastafel pencucian.

Bahkan di area pengolahan yang sama terdapat produk sabun pencuci piring serta galon air mineral kosong.

Penempatan tempe persis di depan fasilitas kamar mandi menjadi sorotan tersendiri bagi tim pemeriksa kesehatan lingkungan.

Kalau di depan kamar mandi gak boleh, harus ada tempat penyimpanan bahan makanan, ujar Tutik.

Itu semua bahan makanan harus ada tempatnya sendiri, ada gudangnya sendiri, tegas Tutik.

Saat ditanya apakah posisi tempe tersebut berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri, Tutik menjawab singkat.

Iya, ucapnya.

Tidak berhenti di situ, ruang penyimpanan wadah ompreng juga dinilai belum sesuai ketentuan karena penataannya masih terbuka.

Area dapur dan ruang pemorsian makanan dilaporkan belum dilengkapi sarana cuci tangan pakai sabun yang memadai.

Fasilitas SPPG tersebut juga belum memiliki ruang khusus untuk proses bongkar muat bahan makanan yang sudah matang.

Dua unit armada distribusi yang tersedia memang telah dilengkapi alat pemantau suhu, namun belum memiliki sekat serta identitas resmi SPPG.

Masalah sanitasi lingkungan turut ditemukan pada instalasi pengolahan air limbah yang belum dilengkapi bak kontrol dan masih menimbulkan bau tidak sedap.

Pengoperasian instalasi pengolahan air limbah tersebut disebut hanya dilakukan pada saat pencucian wadah ompreng makanan.

Sementara itu, tumpukan sampah sisa kegiatan masih terlihat menumpuk di samping bangunan dapur dan belum kunjung diangkut.

Jadi masih harus banyak perbaikan di dapur itu, kata Tutik.

Petugas dinas kesehatan juga mendapati penggunaan minyak goreng curah dalam aktivitas pengolahan makanan tersebut.

Tutik menyebutkan bahwa penggunaan minyak curah sebenarnya bukan merupakan ranah utama penilaian instansi kesehatan.

Namun pihak badan pengelola menegaskan bahwa penggunaan minyak curah tidak dianjurkan untuk program makan bergizi gratis.

Dari BGN sendiri tidak dianjurkan, jadi harus yang standar atau premium, jelasnya.

Sebelumnya, terdapat laporan korban yang mengalami keluhan gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan terus bertambah secara signifikan.

Hingga Selasa 8 September, catatan resmi memperlihatkan jumlah korban mencapai 141 orang dari total tiga institusi sekolah berbeda.

Rincian korban tersebut mencakup 137 orang berasal dari SMA Negeri 1 Tunjungan yang sudah termasuk seorang guru di dalamnya.

Terdapat pula laporan korban tambahan yang menimpa tiga siswa dari SMP Al-Banjari serta satu siswa dari SD IT.

Keluhan gangguan kesehatan tersebut diduga kuat muncul setelah para siswa menyantap menu makanan bergizi gratis pada Senin 7 September.

Karena banyaknya siswa yang mengalami keluhan kesehatan serupa, pihak sekolah kemudian memutuskan untuk tidak membagikan menu makanan pada keesokan harinya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung