Berita, Internasional

China di PBB: Agresi AS-Israel Dalang Krisis Selat Hormuz, Iran Bela Diri

Repelita.net

30 April 2026 15:03 WIB • 1,032 view

China di PBB: Agresi AS-Israel Dalang Krisis Selat Hormuz, Iran Bela Diri
Foto: Istimewa

Repelita New York - Sebuah pernyataan tegas dan mengejutkan dilontarkan oleh China di panggung tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai akar konflik panas yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Utusan Tetap China untuk PBB, Fu Cong, secara blak-blakan dan tanpa tedeng alih menyebut bahwa sumber masalah di selat strategis tersebut bukanlah tindakan defensif dari Iran.

ADVERTISEMENT

Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan Dewan Keamanan PBB, ia justru menuding agresi ilegal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutu lamanya Israel sebagai biang kerok.

Sontak pernyataan berani ini langsung mengundang perhatian dunia, terlebih karena disampaikan di tengah situasi Timur Tengah yang masih dilanda badai konflik berkepanjangan.

"Penyebab utama situasi saat ini di Selat Hormuz adalah agresi ilegal oleh Amerika Serikat dan Israel," tegas Fu Cong dalam sidang darurat yang digelar pada Senin, 27 April 2026.

Kutipan pidato tersebut dikutip secara luas oleh media internasional dari laporan resmi kantor berita Xinhua.

China secara eksplisit menyebut bahwa tindakan Washington dan Tel Aviv-lah yang memicu reaksi berantai berbahaya di kawasan tersebut.

Salah satu bentuk reaksi balasan yang dimaksud adalah kebijakan penutupan selat oleh Iran sebagai bentuk pembelaan diri yang sah menurut hukum internasional.

Lebih lanjut, Fu Cong mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan terkait perilaku Amerika Serikat pasca kesepakatan gencatan senjata.

Meskipun perjanjian gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran baru saja tercapai dengan susah payah, Washington justru menambah eskalasi militer.

Alih-alih meredakan situasi dengan menarik mundur pasukannya, Amerika Serikat malah meningkatkan jumlah personel militernya di kawasan konflik.

Mereka juga secara sepihak melakukan tindakan blokade yang terarah atau dalam istilah militer disebut "targeted blockade" terhadap jalur pelayaran Iran.

"Bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata baru-baru ini, Amerika Serikat meningkatkan penempatan militernya dan melakukan blokade terarah terhadap Iran," kata Fu Cong dengan nada tegas.

China menilai langkah kontradiktif ini sebagai sebuah tindakan yang sangat berbahaya dan sama sekali tidak bertanggung jawab terhadap perdamaian dunia.

"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda, kepentingan semua rakyat di kawasan ini, untuk mencapai perdamaian ini secepat mungkin," tegas pernyataan pidato Fu di hadapan para delegasi.

Delegasi Negeri Tirai Bambu itu tidak hanya sekadar menyalahkan salah satu pihak secara membabi buta tanpa solusi.

Beijing juga berinisiatif menawarkan jalan keluar konkret yang dinilai paling rasional atas kebuntuan yang berkepanjangan di Selat Hormuz.

Menurut Fu Cong, satu-satunya jalan keluar yang logis adalah menghentikan pertumpahan darah di darat dan di laut.

Bukan dengan terus mengirimkan lebih banyak kapal perang, rudal, atau tentara ke kawasan yang sudah panas.

"Solusi untuk mengakhiri blokade jalur air global ini dan pengepungan maritim adalah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan," ujar Fu Cong.

China percaya dengan penuh keyakinan bahwa hanya melalui perdamaian yang utuh, keamanan jalur pelayaran internasional dapat pulih kembali.

Stabilisasi kawasan Teluk dan seluruh kawasan Timur Tengah secara menyeluruh adalah prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

"Penggunaan kekuatan militer yang berlebihan tidak dapat menyelesaikan risiko dari akarnya. Sebaliknya, itu akan memperburuk ketegangan dan konfrontasi," tambahnya mengakhiri pidato.

Di sisi lain, pernyataan mengejutkan terkait perang antara Amerika Serikat dengan Iran datang dari mantan pejabat tinggi era Reagan.

Seorang mantan pejabat yang pernah menduduki posisi sebagai Asisten Menteri Keuangan era Presiden Ronald Reagan yakni Paul Craig Roberts angkat bicara.

Roberts mengatakan bahwa perang Timur Tengah khususnya melawan Iran tidak dapat dipahami secara terpisah dari apa yang ia gambarkan sebagai agenda terselubung.

Agenda tersebut terkait dengan apa yang disebut sebagai "proyek Israel Raya" yang selama ini menjadi mimpi kaum zionis.

Saat tampil di sebuah podcast politik, Roberts mengatakan bahwa Iran dan dunia Islam luas tidak secara langsung mengangkat isu tersebut.

Meskipun ia percaya bahwa isu Israel Raya itu adalah isu sentral yang secara diam-diam mendorong konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Menurut pandangannya sebagaimana dimuat di Middle East Monitor pada Rabu, 29 April 2026, Israel telah berhasil mendorong Trump.

Presiden Amerika Serikat itu didorong untuk berkonfrontasi secara langsung dengan Iran, sesuatu yang gagal dicapai oleh presiden-presiden AS sebelumnya.

"Fakta itu sesuatu yang gagal dicapai dengan presiden AS sebelumnya," katanya dalam podcast Dialogue works tersebut dengan nada yakin.

Ia menambahkan bahwa pergeseran kebijakan luar negeri AS ini secara jelas mencerminkan kemampuan luar biasa Israel dalam mempengaruhi pengambilan keputusan.

Mantan pejabat AS itu juga mengatakan bahwa sebagian besar perang di Timur Tengah pada abad ke-21 pada dasarnya terkait dengan konsep Israel Raya ini.

Karenanya, ia berpendapat bahwa konsekuensi ekonomi dan politik dari konflik-konflik berdarah ini tidak terbatas pada negara negara yang terlibat secara langsung.

Dampaknya meluas ke ekonomi global secara keseluruhan, khususnya sektor energi dan pasar komoditas yang saling terkait.

Usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Saint Petersburg, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pernyataan penuh harap.

Putin mengatakan bahwa pihaknya berharap rakyat Iran yang gigih akan mampu melewati apa yang ia gambarkan sebagai masa sulit yang penuh ujian.

Pemimpin Rusia itu juga menyampaikan harapan bahwa perdamaian yang adil dan langgeng akan segera terwujud di kawasan Timur Tengah.

Rusia telah berulang kali menawarkan diri untuk menjadi mediator netral guna membantu memulihkan ketenangan di Timur Tengah pasca serangan AS-Israel.

Rusia juga berulang kali menawarkan solusi teknis untuk menyimpan uranium yang telah diperkaya milik Iran sebagai cara meredakan ketegangan.

Namun tawaran penyimpanan uranium tersebut hingga saat ini belum juga diterima oleh Amerika Serikat karena berbagai pertimbangan.

"Kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan anda dan kepentingan semua rakyat di kawasan ini untuk memastikan bahwa perdamaian terwujud secepat mungkin," kata Putin kepada Araghchi dalam pertemuan pada hari Senin, 27 April 2026.

Pertemuan itu dilansir oleh Reuters yang mengutip media pemerintah Rusia RIA Novosti.

"Minggu lalu saya menerima pesan dari pemimpin tertinggi Iran, saya ingin meminta anda untuk mengucapkan terima kasih saya yang paling tulus untuk ini," lanjut Putin.

Ia menegaskan kembali bahwa Rusia seperti halnya Iran bermaksud untuk melanjutkan hubungan strategis yang sudah terjalin erat selama ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung