Repelita Jakarta - Gelombang kritik tajam serta tekanan politik yang terus mendera Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu tanggapan keras dari barisan loyalis pimpinan terdahulu.
Pernyataan menohok tersebut disampaikan oleh loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Dede Budhyarto, melalui unggahan di akun media sosial pribadinya pada Senin, 2 November 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam narasi tertulis di akun X @kangdede78 , Dede Budhyarto menuding aksi serangan legalitas terhadap Gibran hanyalah ajang balas dendam politik dari kelompok tertentu.
Ia menyindir pihak-pihak yang dinilai sengaja memanfaatkan instrumen hukum serta isu administratif guna menggoyahkan posisi Wapres secara tidak elegan.
Dede Budhyarto menilai pergerakan tersebut didorong oleh frustrasi politik lantaran kelompok oposisi tidak mampu memenangkan kontestasi pemilu secara terbuka.
Menurut pandangannya, pembatalan dokumen administrasi oleh Mahkamah Agung tidak serta-merta menggugurkan legalitas jabatan yang telah disahkan secara konstitusional.
Ia juga menyindir keterlibatan elit partai politik yang mendadak tampil sok paling pahlawan tatkala mencium aroma perebutan kursi kekuasaan.
Manakala ada peluang kekuasaan terbuka, elit politik langsung beramai-ramai beralih peran seolah-olah memperjuangkan kebenaran hukum padahal demi kepentingan pribadi.
Kritik terhadap keabsahan dokumen pendidikan dianggap sebagai narasi berulang yang dirancang khusus untuk memelihara kegaduhan publik jangka panjang.
Dede Budhyarto menegaskan bahwa syarat pencalonan serta mekanisme pemberhentian pejabat publik yang sedang menjabat diatur secara tegas dan terpisah dalam aturan perundang-undangan.
Seluruh langkah pengeroyokan hukum yang dilancarkan dari tingkat PTUN, MA, hingga wacana pembentukan panitia di DPR-MPR dinilai tidak akan meruntuhkan posisi hukum Gibran.
Ia pun mengimbau masyarakat luas agar tidak mudah terprovokasi oleh agenda politik terselubung yang dibungkus dengan narasi penegakan hukum.
Dukungan publik secara penuh diyakini tetap berada pada pihak yang bekerja tulus ketimbang gerombolan politisi yang haus akan kekuasaan semata.
Dede Budhyarto menutup narasinya dengan menyerahkan seluruh dinamika perselisihan hukum dan politik tersebut kepada ketetapan Tuhan Yang Maha Esa. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok