Berita, Internasional

48 Negara Uni Afrika Hadiri KTT Rusia-Afrika, Pengaruh Barat Kian Dipertanyakan

Repelita.net

01 November 2026 13:56 WIB • 225 view

48 Negara Uni Afrika Hadiri KTT Rusia-Afrika, Pengaruh Barat Kian Dipertanyakan
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Sebanyak 48 dari total 54 negara kawasan Uni Afrika dilaporkan ikut berpartisipasi dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-Afrika yang ketiga di Kremlin.

ADVERTISEMENT

Kehadiran masif tersebut dinilai mematahkan prediksi sepihak dari blok Barat yang menyatakan bahwa negara Beruang Putih akan terisolasi akibat konflik geopolitik di Ukraina.

Informasi mengenai pelaksanaan forum kerja sama internasional lintas benua tersebut diunggah oleh akun @pbb_8o pada hari Minggu, 1 November 2026.


Akun @pbb_8o menuliskan pandangannya mengenai pergeseran arah diplomasi global tersebut, "Uni Eropa dan USA mengatakan bahwa Rusia akan ditinggalkan sendirian dengan Perang Ukraina. Hari ini 48 dari 54 negara Uni Afrika telah berpartisipasi dalam KTT Rusia-Afrika yg ke 3 diadakan di Kremlin Untuk perdamaian, keamanan, dan pembangunan. Eropa telah tersesat. Rusia tidak mengkolonisasi mereka, tidak mengeksploitasi mereka, tidak merampok mereka, tidak menguasai sumber daya mereka, tidak memperbudak mereka... Mungkin karena itulah mereka sudah tidak percaya lagi pada Barat. ."

Agenda internasional ini pun memicu rasa penasaran dari warga digital terkait daftar negara yang memilih absen serta dinamika penolakan di baliknya.

Berdasarkan analisis kecerdasan buatan yang dihimpun netizen, pihak penyelenggara memang sengaja tidak merilis rincian daftar resmi dari enam otoritas wilayah yang kosong.

Beberapa negara besar tetap dihitung berpartisipasi karena mengirimkan delegasi tingkat tinggi, meskipun posisi kepala negaranya tidak hadir secara fisik.

Penjelasan administratif mengenai status kehadiran tersebut disampaikan oleh akun @kdg.bud1ono melalui kutipan sistem pintar, "Kremlin cuma umumkan angka 48 dari 54, tidak rilis daftar resmi 6 yang absen. Itu yang bikin media bingung — yang jelas absen sebagai kepala negara tapi negaranya tetap dihitung hadir itu seperti Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, Burkina Faso yang cuma kirim PM/Dirjen, jadi bukan mereka 6 yang kosong."

Satu-satunya wilayah yang dikonfirmasi tidak mendapatkan undangan resmi adalah kelompok Front Polisario atau Republik Demokratik Arab Sahrawi (RASD).

Hal tersebut dikarenakan aturan baku dari forum bilateral ini yang mensyaratkan status keanggotaan penuh pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Faktor lain yang ditengarai menjadi penyebab ketidakhadiran sisa negara lainnya meliputi tekanan diplomatik eksternal hingga kendali stabilitas wilayah domestik.

Sistem pintar menjabarkan indikasi kendala tersebut, "Satu yang dipastikan tidak diundang adalah Front Polisario / RASD Sahara Barat, karena KTT ini pakai aturan negara anggota PBB, bukan otomatis semua anggota Uni Afrika. Untuk 5-6 lainnya Kremlin tidak transparan, laporan menyebut kemungkinan karena tekanan Barat, alasan logistik, atau keamanan dalam negeri seperti di Sahel."

Di sisi lain, perdebatan mengenai alasan mendasar blok Eropa menjadikan Moskow sebagai musuh bersama pascaoperasi militer di Eropa Timur turut diulas kembali.

Negara-negara barat memandang langkah agresi bersenjata tersebut sebagai ancaman nyata terhadap tatanan hukum internasional dan kedaulatan wilayah perbatasan.

Langkah kolektif berupa sanksi ekonomi diterapkan demi menaikkan ongkos konflik serta mencegah potensi perluasan area pertempuran ke teritorial Uni Eropa.

Tujuan dari tindakan penahanan kawasan tersebut dipaparkan oleh akun @satri_ndra melalui rangkuman sistem, "Karena Eropa melihat serangan Rusia ke Ukraina sebagai pelanggaran kedaulatan negara tetangga dan ancaman langsung ke tatanan keamanan Eropa. Bagi UE, ini bukan cuma perang bilateral tapi preseden: kalau batas negara bisa diubah pakai kekuatan militer, negara-negara Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia merasa terancam berikutnya. Makanya responsnya kolektif — sanksi ekonomi, bantuan ke Ukraina, dan penguatan NATO — bukan karena benci budaya "russky", tapi untuk menaikkan biaya agresi dan mencegah perang meluas ke wilayah UE sendiri."

Sebagai penutup perbincangan, warga digital menilai keberhasilan jalinan kemitraan strategis ini menjadi keuntungan besar bagi stabilitas geopolitik Kremlin saat ini.

Langkah tersebut dinilai berhasil memperkuat posisi tawar Moskow dalam merangkul kekuatan ekonomi baru di belahan bumi bagian selatan.

Opini mengenai peta aliansi baru tersebut ditegaskan oleh akun @mahdihadiwijaya, "FYI, rusia dulu gak ikutan nge jajah Afrika. Alhasil dampak positifnya bagi rusia beneran kerasa 😁 rusia ni skrg bareng Afrika udah sekutuan. Jelas, rusia udah pegang sebagian dr global south".(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung