Berita, Ekonomi

Yanuar Rizky Soroti Tiga Pernyataan BI dan Menkeu, Sindir Ekonomi Bertumpu Utang

Repelita.net

06 May 2026 21:29 WIB • 720 view

Yanuar Rizky Soroti Tiga Pernyataan BI dan Menkeu, Sindir Ekonomi Bertumpu Utang
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Analis ekonomi Yanuar Rizky menyoroti tiga pernyataan kunci dari Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan usai pertemuan dengan Presiden terkait kondisi ekonomi nasional.

Pertama, pernyataan Menteri Keuangan yang menyebut "uang kita banyak" kemudian diikuti dengan rencana masuk ke global bond dalam bentuk Panda Bond berdenominasi Yuan dengan bunga rendah.

ADVERTISEMENT

Kedua, pernyataan Gubernur BI yang selaras untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dengan mendorong transaksi Yuan karena pasar domestik Rupiah terhadap Yuan dinilai sudah banyak.

Ketiga, pernyataan Gubernur BI bahwa cadangan devisa lebih dari cukup untuk intervensi stabilisasi Rupiah, kemudian diikuti dengan penghidupan SRBI untuk menyerap valas masuk dari outflow saham dan surat berharga negara.

Menurut Yanuar Rizky, dari ketiga pernyataan itu dapat ditarik sejumlah catatan kritis.

Tumpuan uang yang disebut banyak tersebut pada hakikatnya adalah utang, baik dalam bentuk Yuan maupun dolar AS tetap merupakan utang.

Dengan kata lain, bahasa yang lebih terang menyebutkan bahwa uang yang banyak itu berasal dari berutang.

Panda Bond sendiri merupakan surat utang atau obligasi yang diterbitkan oleh emiten asing di pasar domestik China dengan denominasi mata uang Renminbi atau Yuan.

Instrumen ini diterbitkan untuk mendapatkan pendanaan dengan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dolar Amerika Serikat.

Strategi bunga Yuan yang lebih rendah di pasar surat utang China dinilai mampu mengerem membengkaknya biaya bunga akibat kurs Rupiah yang anjlok terhadap dolar yang harus dibayarkan APBN.

Namun analis ini mempertanyakan apakah langkah tersebut akan meningkatkan penerimaan negara yang melebihi tambahan biaya bunga yang harus ditanggung.

Selanjutnya, kebijakan ini secara tidak sadar menggeser perilaku masyarakat yang mulai melakukan natural hedging ke simpanan dolar AS di dalam negeri menuju Yuan.

Dengan mengarahkan transaksi ke Yuan, pemerintah berharap valas yang masuk dari penerbitan Panda Bond tidak terbebani dengan keharusan ditukar ke dolar AS akibat permintaan valas di perbankan.

Secara geopolitik, sinyal ini tentu akan membawa konsekuensi ke pasar uang yang lebih luas, dan diharapkan semua risiko sudah diperhitungkan dengan matang.

Meskipun cadangan devisa disebut lebih dari cukup dan upaya menyerapnya dengan SRBI atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, hal itu sebenarnya juga merupakan utang dari BI ke pasar.

Bunga dari SRBI tersebut disebut jauh berada di atas BI rate, sehingga jika digunakan untuk intervensi, perlu dikaji apakah akan menjadi biaya atau justru laba moneter.

Yanuar Rizky menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dibiayai oleh utang pada ujungnya akan menentukan apakah negara mampu membayar atau malah semakin terperosok di masa depan.

Ia menegaskan karena transaksi hari ini dilakukan untuk masa depan, maka pembacaan optimisme harus dilakukan di depan kurva, tidak hanya berdasarkan angka-angka statistik hari ini.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung