Berita, Nasional

Prabowo Pekikkan Free Palestine Tiga Kali di Gontor, Tegaskan Pentingnya Kemandirian Bangsa Agar Tak Diinjak Bangsa Lain

Repelita.net

19 September 2026 17:31 WIB • 107 view

Prabowo Pekikkan Free Palestine Tiga Kali di Gontor, Tegaskan Pentingnya Kemandirian Bangsa Agar Tak Diinjak Bangsa Lain
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyuarakan dukungan tegas terhadap kemerdekaan Palestina di hadapan ribuan hadirin yang memadati area Pondok Modern Darussalam Gontor.

Peristiwa penting tersebut berlangsung pada hari Sabtu, 19 September 2026, ketika pimpinan tertinggi negara menghadiri Resepsi Kesyukuran satu abad institusi pendidikan Islam terkemuka di Ponorogo, Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

Kehadiran kepala negara disambut antusias oleh segenap sivitas akademika serta para tamu undangan dari berbagai perwakilan diplomatik negara sahabat di Indonesia.

Suasana mendadak bergemuruh tatkala kepala negara menyapa para duta besar asing yang hadir secara khusus dalam rangkaian perayaan akbar tersebut.

Salah satu tokoh diplomatik yang mendapatkan sapaan hangat dari panggung utama adalah Duta Besar Palestina untuk Indonesia yakni Abdulfattah A.K. Al-Sattari.

Penyambutan istimewa terhadap perwakilan negara sahabat ini langsung memantik tepuk tangan meriah serta sorakan riuh dari lautan manusia di lokasi acara.

Merespons sambutan hangat tersebut, Presiden Prabowo Subianto secara lantang meneriakkan pekikan Free Palestine sebanyak tiga kali berturut-turut di depan publik.

Setiap kali seruan tersebut bergema dari pengeras suara, ribuan hadirin langsung menyambutnya secara serentak dengan meneriakkan kalimat dukungan serupa.

Momen mengharukan terjadi ketika Dubes Abdulfattah bergegas berlari menuju panggung utama sambil membawa sehelai selendang keffiyeh tradisional khas Palestina.

Kain simbol perjuangan tersebut kemudian diserahkan langsung kepada kepala negara untuk dikalungkan sebagai wujud solidaritas antarbangsa.

Keduanya terlihat saling berpelukan erat di atas panggung di tengah gemuruh tepuk tangan dan dukungan moral yang diberikan oleh para santri serta ulama.

Selepas momen emosional tersebut, kepala negara memberikan pidato khusus yang menyoroti penderitaan berkepanjangan rakyat Palestina akibat agresi militer.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permohonan maaf karena merasa belum mampu berbuat banyak untuk menghentikan krisis kemanusiaan di sana.

Saya minta maaf, tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka, ucap Prabowo.

Situasi memprihatinkan yang menimpa warga sipil di wilayah konflik tersebut dinilai harus menjadi momentum kebangkitan bagi kemandirian bangsa Indonesia.

Seluruh elemen masyarakat mulai dari para kiai, ulama, pendidik, hingga para santri didorong agar membimbing generasi muda agar serius menuntut ilmu.

Pendidikan dan penguatan kapasitas nasional dipandang sebagai kunci utama agar Indonesia tumbuh menjadi negara yang disegani dalam kancah geopolitik global.

Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak, kehendak untuk belajar sungguh-sungguh, kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain, ujar Prabowo.

Pengalaman historis masa lampau di mana Nusantara pernah mengalami masa-masa penjajahan kelam turut diungkit kembali sebagai pelajaran berharga.

Perjuangan para pendahulu bangsa dalam merebut kedaulatan membuktikan bahwa kelemahan struktural hanya akan menempatkan negeri ini di bawah tekanan asing.

Kita pernah dijajah oleh bangsa lain. Itu kenyataan yang pahit. Ya, bapak-bapak kita, eyang-eyang kita, kakek-kakek kita, ya, pendahulu-pendahulu kita ya berjuang, ya melawan, tapi cukup lama kita di bawah telapak kaki bangsa lain, tutur Prabowo.

Kesadaran kolektif atas kekurangan internal bangsa harus ditanamkan kepada para penerus estafet kepemimpinan melalui keberanian dalam melakukan evaluasi diri.

Generasi muda didorong agar senantiasa berpikiran kritis terhadap berbagai kelemahan domestik demi merumuskan strategi pembangunan yang jauh lebih efektif.

Saya berharap dari generasi penerus, dari ustaz-ustaz, dari ulama-ulama untuk bisa membangunkan keberanian untuk belajar dari kelemahan-kelemahan kita sendiri, kekurangan-kekurangan kita sendiri, kata Prabowo.

Peningkatan daya saing nasional secara menyeluruh ditegaskan sebagai prasyarat mutlak agar Indonesia memiliki kapasitas diplomasi yang diperhitungkan dunia.

Solidaritas terhadap bangsa lain yang tertindas hanya dapat diwujudkan secara nyata apabila kekuatan ekonomi, politik, dan militer dalam negeri berada pada level optimal.

Kita harus kuat, karena kita dengan kekuatan, kalau kita kuat, kita bisa bantu saudara-saudara kita yang ditindas atau tertindas bangsa lain, kalau kita tidak punya kekuatan bagaimana kita membantu, tandas Prabowo. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung