Berita, Internasional

Washington Tetapkan Iran Sebagai Musuh Paling Berbahaya Di Kawasan Timur Tengah Terkait Nuklir Dan Terorisme

Repelita.net

08 May 2026 12:37 WIB • 764 view

Washington Tetapkan Iran Sebagai Musuh Paling Berbahaya Di Kawasan Timur Tengah Terkait Nuklir Dan Terorisme
Foto: Istimewa

Repelita Amerika Serikat - Otoritas keamanan nasional di Washington secara resmi menetapkan posisi Republik Islam Iran sebagai ancaman paling berbahaya yang muncul dari kawasan Timur Tengah saat ini.

Penetapan status tersebut merujuk pada dokumen Strategi Kontraterorisme yang menegaskan bahwa Teheran merupakan pusat gangguan bagi stabilitas keamanan domestik maupun global melalui berbagai saluran kekuatan militer mereka.

ADVERTISEMENT

Dalam naskah kebijakan tersebut, pemerintah secara eksplisit memaparkan, “Ancaman terbesar bagi Amerika Serikat yang berasal dari Timur Tengah datang khususnya dari Iran, baik secara langsung melalui kemampuan nuklir dan misilnya, maupun secara tidak langsung lewat miliaran dolar yang disalurkan kepada kelompok teror proksinya, termasuk Hezbollah.”

Ketegangan antara kedua negara sempat memuncak pada 28 Februari lalu ketika unit militer gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi serangan ke titik strategis Iran yang mengakibatkan kerusakan serta jatuhnya korban warga sipil.

Meskipun upaya penurunan eskalasi sempat dilakukan melalui deklarasi gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April, namun proses diplomasi yang berjalan setelahnya tidak membuahkan hasil yang diharapkan oleh pihak Gedung Putih.

Kegagalan dialog di Islamabad membuat Presiden Donald Trump mengambil kebijakan untuk memperlama masa penghentian kontak senjata demi memberikan ruang bagi pihak Iran dalam merancang sebuah “proposal terpadu” guna mengakhiri perselisihan.

Dampak dari krisis geopolitik ini telah mengganggu stabilitas distribusi energi internasional di Selat Hormuz, yang merupakan jalur perdagangan minyak dan gas yang sangat krusial, hingga menyebabkan lonjakan harga pasar yang signifikan.

Guna mengatasi hambatan pelayaran tersebut, Donald Trump awalnya menginstruksikan dimulainya operasi Project Freedom pada Minggu malam untuk memandu kapal-kapal tanker yang terisolasi agar dapat segera keluar dari zona berbahaya tersebut.

Namun secara mendadak pada hari Selasa, Presiden menyatakan keputusannya untuk membatalkan sementara pelaksanaan operasi militer itu demi melihat adanya potensi kesepakatan damai yang bisa segera disepakati bersama pemerintah Iran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung