Repelita Jakarta - Wartawan senior Edy Mulyadi menyoroti secara tajam laporan utama dari majalah asing terkemuka bertajuk The Economist yang dinilai menyudutkan arah kebijakan pembangunan nasional secara sepihak.
Ulasan yang dikeluarkan media barat tersebut dianggap memiliki bias yang sangat kental dan tidak objektif dalam meneropong realitas transisi kepemimpinan serta stabilitas domestik saat ini.
ADVERTISEMENT
Melalui pemaparannya, wartawan senior ini menegaskan bahwa artikel pers internasional itu merupakan refleksi dari ketakutan kelompok kapitalis terhadap potensi kemandirian negara.
Menurut analisis wartawan senior Edy Mulyadi, terdapat agenda terselubung dari jaringan pemodal dunia yang menginginkan posisi tawar perekonomian domestik agar Indonesia tetap takluk di bawah kendali mereka.
Skenario penyebaran opini negatif tersebut sengaja diembuskan demi menjaga kepentingan geopolitik serta dominasi pasar agar kontrol investasi strategis tetap berada di tangan entitas asing.
Sentimen miring yang diproduksi secara masif ini sengaja didesain sedemikian rupa guna memicu ketidakpastian iklim usaha sekaligus merusak reputasi nasional di mata dunia internasional.
Wartawan senior Edy Mulyadi juga menegaskan bahwa serangan narasi tersebut bertujuan memaksa regulasi internal agar selalu patuh pada skema perdagangan global yang tidak adil.
Berbagai indikator kemajuan riil sengaja dinegasikan oleh pihak luar guna membentuk persepsi publik yang keliru mengenai kondisi ketahanan ekonomi di tanah air.
Oleh sebab itu, publik diingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh framing berbahaya yang sejatinya dirancang untuk melemahkan kedaulatan bangsa demi keuntungan elit global.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok