Berita, Timur Tengah

[VIRAL] Sebagai Sosok Diplomat Ulung Menlu Iran Abbas Araghchi Galang Dukungan China-Rusia di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran

Repelita.net

07 May 2026 18:32 WIB • 823 view

[VIRAL] Sebagai Sosok Diplomat Ulung Menlu Iran Abbas Araghchi Galang Dukungan China-Rusia di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Nama Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, belakangan ini mencuat dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial karena reputasinya sebagai sosok diplomat yang lihai dan tangguh.

Ia tengah melakukan serangkaian kunjungan kenegaraan ke sejumlah negara sahabat dalam upaya memperkuat hubungan bilateral di tengah eskalasi konflik antara Iran versus Amerika Serikat yang kian membara.

ADVERTISEMENT

China dan Rusia menjadi dua negara adidaya yang disambangi Araghchi guna menggalang dukungan dan memperkokoh kerjasama antar negara dalam menghadapi tekanan Barat.

Di samping dikenal memiliki sikap keras dan tak kenal kompromi dalam politik luar negeri Iran, Araghchi tetaplah seorang diplomat yang aktif membangun komunikasi dengan negara-negara Eropa dan Amerika, terutama dalam isu-isu sensitif seperti program nuklir.

Pria kelahiran Teheran, 5 Desember 1962, ini telah menjelma menjadi figur sentral dalam berbagai perundingan internasional yang melibatkan kepentingan Republik Islam Iran.

Namanya melambung tinggi di kancah global ketika ia turut serta dalam negosiasi alot program nuklir Iran yang pada akhirnya melahirkan kesepakatan bersejarah bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada tahun 2015.

Dalam pembahasan rumit tersebut, Abbas Araghchi bertindak sebagai wakil dari kepala negosiator Iran saat itu, Mohammad Javad Zarif, dan bahkan memimpin sendiri beberapa sesi krusial dengan perwakilan negara-negara Barat.

Setelah Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian JCPOA pada 2018, Araghchi tetap menjadi salah satu motor penggerak utama yang mendorong upaya menghidupkan kembali kesepakatan tersebut demi meringankan beban sanksi internasional yang membelenggu Iran.

Kariernya melejit ketika ia resmi ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri Iran pasca pelantikan Presiden Masoud Pezeshkian pada tahun 2024, di mana pemerintahan baru saat itu berupaya membuka peluang kesepakatan segar dengan Barat.

Para analis menilai bahwa Abbas Araghchi menempati posisi unik karena dinilai mampu menjadi jembatan penghubung antara kepentingan nasional Iran dengan tuntutan negara-negara Barat.

Di satu sisi ia dipercaya penuh oleh kalangan garis keras di dalam negeri, namun di sisi lain ia tetap diterima sebagai diplomat yang berpengalaman dan rasional dalam pergaulan internasional.

Pada saat konflik Iran memanas pada 2026, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah pemimpin politik penting negeri itu.

Meskipun Araghchi sering muncul di ruang publik dan bergerak aktif sepanjang konflik berlangsung, namanya anehnya tidak masuk dalam daftar sasaran awal serangan.

Kondisi ini membuat banyak pengamat dan diplomat asing menilai bahwa Araghchi berpotensi menjadi mediator penting dalam komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai di masa mendatang.

Abbas Araghchi lahir dari keluarga pedagang asal Isfahan yang kemudian menetap dan membesarkan putra-putrinya di Teheran.

Pada masa perang delapan tahun Iran melawan Irak (1980–1988), ia sempat mengabdi sebagai sukarelawan di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Memasuki tahun 1985, Araghchi mulai menapaki pendidikan tingginya di School of International Relations yang berada di bawah naungan Kementerian Luar Negeri Iran, dan berhasil meraih gelar sarjana pada 1989.

Selepas kuliah, ia langsung berkarier di kementerian tersebut sambil melanjutkan studi magister ilmu politik di Islamic Azad University yang ia selesaikan pada 1991.

Ia juga sempat menjalani masa tugas singkat di Arab Saudi sebelum kemudian terbang ke Inggris untuk melanjutkan studi doktoral di University of Kent.

Pada 1996, Abbas Araghchi berhasil meraih gelar doktor di bidang pemikiran politik, dengan disertasi yang membahas hubungan antara demokrasi liberal gaya Barat dengan sistem pemerintahan berbasis Islam.

Sepulangnya ke Iran, ia dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis di lembaga-lembaga kajian yang berafiliasi erat dengan Kementerian Luar Negeri.

Karier diplomatiknya terus menanjak hingga puncaknya ketika ia diangkat menjadi Duta Besar Iran untuk Finlandia pada tahun 1999.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung