Repelita [Jakarta] - Pakar telematika sekaligus Bupati Anom Keraton Yogyakarta, KRMT Roy Suryo, membongkar serangkaian fakta mengejutkan mengenai sisi gelap serta ritual adat yang dilakukan oleh mantan Presiden Joko Widodo selama menjabat.
Roy Suryo menyoroti perilaku Jokowi yang dianggap sering menggunakan narasi sebagai orang kampung namun sebenarnya memiliki ambisi besar untuk dipandang layaknya seorang penguasa absolut atau raja.
ADVERTISEMENT
Dalam bincang media tersebut, Roy Suryo mengungkapkan sebuah rahasia besar mengenai keinginan Jokowi yang gagal terpenuhi saat mencoba meminjam busana kebesaran dari penguasa takhta yang asli.
Roy Suryo secara blak-blakan membeberkan kejadian tersebut dengan menyatakan bahwa "satu momentum dia benar-benar pengin meminjam baju raja sesungguhnya oh iya iya itu suatu saat akan kita bongkar oke oke tapi tidak dikasih oleh raja sesungguhnya itu".
Selain masalah busana, Roy juga menyinggung kebiasaan Jokowi yang kerap melakukan ritual di luar kewajaran sejak masih menjabat sebagai Walikota Solo, termasuk melakukan tarian yang tampak seperti sedang kerasukan .
Fenomena ini dijelaskan lebih lanjut oleh Roy Suryo dengan menyebutkan bahwa "jokowi waktu itu masih walikota dia menari kayak kemasukan dia sambil ngambil airnya itu kemudian sambil menari ini ada di tarian-tarian kalau di zaman dulu ketika animas dinamis itu orang kalau kerasukan ya kayak gitu kerasukan arwah kerasukan arwah ada".
Roy Suryo pun mendalami aspek metafisika terkait weton atau hari kelahiran Jokowi yang menurutnya sangat memengaruhi karakter licik serta kecerdasan yang disalahgunakan dalam berpolitik.
Ia merinci analisis primbon tersebut dengan menyatakan "karena dia lahirnya 21 Juni tahun 61 itu ee Rebunya itu hari Rabu tapi hari pasarannya lagi h itu neptunya 12 memang otaknya itu lebih dari pintar tricky licik maksud Mas iya".
Kebiasaan memelihara hewan tertentu di istana juga tidak luput dari perhatian Roy, yang mengaitkan aktivitas tersebut dengan praktik mencari kekayaan secara mistis atau yang dikenal sebagai pesugihan di tanah Jawa.
Terkait hal tersebut, Roy Suryo memberikan sindiran tajam dengan menuliskan "ketika di Istana Bogor apa yang dilakukan Jokowi ini memang memelihara kodok kalau di masyarakat Jawa apa sih Mas pesugihan iya kan sudah jadi presid buat apa pesugihan".
Ungkapan ini menjadi polemik baru di tengah masyarakat yang selama ini hanya melihat sisi luar dari kesederhanaan Jokowi tanpa mengetahui adanya sisi spiritualitas kuno yang terus dipraktikkan secara tertutup.
Masyarakat kini diajak untuk lebih kritis dalam memaknai setiap gestur politik sang mantan presiden agar tidak terjebak dalam narasi kepalsuan yang telah dirancang sedemikian rupa melalui berbagai pencitraan(*)
Editor: 91224 R-ID Elok