Berita, Nasional

[VIRAL] Profesor Suzie Sudarman Nilai Rezim Jokowi Rusak UI, Singgung Dugaan Pembicara Zionis di Kampus

Repelita.net

11 May 2026 15:14 WIB • 920 view

[VIRAL] Profesor Suzie Sudarman Nilai Rezim Jokowi Rusak UI, Singgung Dugaan Pembicara Zionis di Kampus
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Akademisi senior Universitas Indonesia, Profesor Suzie Sudarman, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan rezim Presiden Joko Widodo yang dinilai telah melakukan kooptasi serta merusak tatanan integritas di lingkungan kampus kebanggaan bangsa tersebut.

Dosen Hubungan Internasional ini menyoroti penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2021 tentang Statuta UI sebagai instrumen politik yang digunakan pemerintah untuk membungkam daya kritis serta independensi para intelektual.

ADVERTISEMENT

Dalam bincang media di kanal Madilog, Profesor Suzie Sudarman mengungkapkan kekecewaannya dengan menyatakan bahwa "rezim Jokowi telah berhasil dalam tanda kutip merusak UI berhasil dia satu-satunya presiden yang mau melakukan hal ini dia adalah seorang presiden yang semacam gerakan PKI subversif gitu ya pak Jokowi kelihatan sekali dia tidak suka pada ilmu".

Intervensi kekuasaan tersebut dianggap telah melumpuhkan peran Dewan Guru Besar dalam mengawasi etika serta norma akademik, sehingga membuka celah bagi praktik pragmatisme demi kepentingan jabatan dan politik praktis semata.

Beliau mengungkapkan adanya indikasi penyusupan pengaruh luar yang sangat mengkhawatirkan dengan menyebutkan bahwa "nyatanya ketua MWA kita adalah orang NU Pak Stakov yang menyisipkan pembicara-pembicara Zionis untuk menjadi pembicara di kalangan mahasiswa").

Kondisi ini dipandang Profesor Suzie sebagai upaya sistematis untuk mendekatkan orientasi nasional kepada pihak tertentu yang secara prinsipil bertentangan dengan amanat konstitusi terkait kemerdekaan bangsa Palestina.

Selain masalah ideologi, degradasi moral di lingkungan kampus juga tercermin dari maraknya pemberian gelar kehormatan secara instan kepada para pejabat negara yang diduga kuat melalui proses administratif yang cacat hukum.

Suzie memaparkan dampak buruk dari hilangnya standarisasi akademik tersebut dengan menyatakan bahwa "universitas sudah menjadi tempat untuk menipu rakyat dengan titel-titel palsu mereka bisa mendesak untuk mendapatkan doktor kehormatan atau profesor kehormatan dalam kasus Pak Bahlil bisa menjadi calon doktor dengan disertasi yang dianggap plagiat").

Dampak dari regulasi baru ini juga menyasar pada kesejahteraan dosen yang sangat memprihatinkan, di mana pendapatan tenaga pendidik hanya setara upah minimum sehingga mematikan gairah inovasi serta penelitian berkualitas.

Para pengajar di UI kini dibebani oleh tugas birokrasi yang sangat administratif serta berada di bawah pengawasan ketat rektorat, yang menyebabkan ruang berekspresi untuk menyuarakan kebenaran menjadi semakin menyempit.

Profesor Suzie juga membeberkan kegagalan upaya diplomasi para guru besar untuk mengembalikan statuta UI ke marwah aslinya karena adanya tembok penghalang besar di lingkaran dalam istana kepresidenan.

Beliau menceritakan hambatan komunikasi tersebut dengan menyatakan bahwa "prof harrisuti mencoba eh menulis surat kepada Seknek ya untuk bisa bertemu dengan Jokowi tidak dijawab beliau dan beberapa guru besar lainnya mencari ee koneksi untuk bisa masuk melalui Pak Hendro Priono tapi itu ditolaklah oleh Pak LBP pak Luhud pak Luhud".

Melalui pengungkapan fakta ini, Profesor Suzie Sudarman berharap adanya kesadaran kolektif dari seluruh elemen bangsa untuk menyelamatkan dunia pendidikan dari cengkeraman kekuasaan yang bersifat transaksional dan merusak masa depan intelektualitas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung