Berita, Viral Sosmed

[VIRAL] Potret Miris Siswa SDN Tando Belajar di Bawah Pohon Saat Pemerintah Banggakan Puluhan Ribu Koperasi Desa Merah Putih

Repelita.net

11 May 2026 23:34 WIB • 1,029 view

[VIRAL] Potret Miris Siswa SDN Tando Belajar di Bawah Pohon Saat Pemerintah Banggakan Puluhan Ribu Koperasi Desa Merah Putih
Foto: Istimewa

Repelita [Manggarai Barat] - Kontras tajam antara kemajuan ekonomi yang didengungkan pemerintah pusat dengan kenyataan pahit di lapangan kini tengah membayangi potret dunia pendidikan di wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur.

Aktivitas belajar mengajar di Sekolah Dasar Negeri Tando, Desa Robo, Kabupaten Manggarai Barat, hingga saat ini terpaksa digelar di bawah rimbunnya pepohonan akibat ketiadaan fasilitas ruang kelas yang layak dan memadai.

ADVERTISEMENT

Keadaan memprihatinkan ini terungkap melalui rekaman video yang diunggah melalui akun Facebook Karlos Melo pada tanggal 9 April 2026 yang memperlihatkan perjuangan para murid untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di tengah keterbatasan.

Dalam tayangan tersebut, seorang pendidik bernama Marta tampak tetap gigih memberikan materi kepada belasan siswa kelas tiga di alam terbuka demi menyiasati ketiadaan sarana bangunan sekolah yang memenuhi standar keselamatan bagi para siswa.

Marta menceritakan bahwa sejak sekolah ini berdiri secara mandiri pada tahun 2014 silam, dirinya dan rekan sejawat lainnya sudah terbiasa menghadapi kondisi infrastruktur pendidikan yang sangat serba kekurangan serta minim perhatian otoritas terkait.

Selain harus belajar di luar ruangan, terdapat pula bangunan kelas lain yang kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya berdindingkan seng yang sudah berkarat serta masih beralaskan tanah tanpa adanya lapisan lantai semen yang kering.

Fasilitas pendukung dasar seperti kamar mandi siswa dan akses terhadap instalasi air bersih juga masih menjadi angan-angan bagi seluruh penghuni sekolah yang lokasinya terisolasi dan cukup jauh dari pusat pemukiman warga desa.

Kepala SDN Tando, Fransiskus Jenala, menjelaskan bahwa dulunya sekolah ini hanya berstatus sebagai kelas tambahan yang bangunannya didirikan secara swadaya menggunakan material kayu seadanya oleh masyarakat sekitar karena kebutuhan mendesak akan pendidikan.

Meskipun pemerintah pusat sempat membangun gedung permanen dengan tiga ruangan pada tahun 2018 lalu, jumlah tersebut belum mampu untuk menampung seluruh rombongan belajar yang jumlah siswanya terus bertambah setiap tahun ajaran baru dimulai.

Fransiskus Jenala mengungkapkan keresahannya kepada media fajar.co.id pada 10 Mei 2026 dengan menyatakan bahwa "Gedung sekolah awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan material kayu dan seng," tuturnya saat memberikan keterangan mengenai sejarah sekolah tersebut.

Selama musim penghujan tiba, para murid kelas tiga terpaksa harus bersabar menunggu giliran belajar di dalam ruangan kelas yang sempit setelah siswa kelas satu menyelesaikan jam pelajaran mereka dan diizinkan untuk pulang ke rumah.

Ironisnya, kondisi SDN Tando ini sangat bertolak belakang dengan klaim keberhasilan pembangunan puluhan ribu unit Koperasi Desa Merah Putih yang sedang sangat dibanggakan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai forum nasional belakangan ini.

Saat menghadiri agenda peletakan batu pertama proyek hilirisasi fase dua di Cilacap pada 29 April 2026, Presiden Prabowo sempat sesumbar mengenai kecepatan pembangunan infrastruktur ekonomi kerakyatan tersebut yang diklaim sebagai sejarah baru di dunia.

Beliau menyampaikan target ambisiusnya di hadapan publik dengan berkata bahwa "Sebentar lagi kita akan resmikan 1000 Koperasi Merah Putih. Kemungkinan 2-3 minggu lagi. Sesudah itu 2-3 bulan lagi kita akan resmikan lebih dari 25.000 koperasi," ucapnya dengan nada penuh rasa bangga.

Prabowo juga menantang catatan sejarah dunia untuk membuktikan apakah ada negara lain yang mampu membangun puluhan ribu unit usaha lengkap dengan fasilitas fisik serta logistik penunjang hanya dalam kurun waktu satu tahun saja.

Namun bagi warga di pelosok Manggarai Barat, kemegahan program ekonomi nasional tersebut seolah menjadi sebuah ironi di tengah perjuangan anak bangsa yang masih harus bertaruh kesehatan belajar di bawah pohon terbuka setiap harinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung