Berita, Timur Tengah

Trump Klaim Iran “Terpecah”, Pemerintah Iran Kompak Bantah Klaim Trump Soal Perpecahan Kepemimpinan

Repelita.net

24 April 2026 16:29 WIB • 1,048 view

Trump Klaim Iran “Terpecah”, Pemerintah Iran Kompak Bantah Klaim Trump Soal Perpecahan Kepemimpinan
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Pemerintah Iran secara kompak membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut adanya perpecahan di dalam kepemimpinan Teheran.

Sejumlah pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa negara mereka tetap solid dan bersatu di tengah meningkatnya tekanan geopolitik serta konflik kawasan yang berkepanjangan.

ADVERTISEMENT

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, hingga Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pesan yang sama: Iran berada dalam kondisi bersatu tanpa celah sedikit pun.

Pernyataan sikap bulat ini juga diperkuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran melalui pernyataan resmi yang dirilis kepada publik.

Mereka dengan tegas menegaskan bahwa tidak ada perpecahan antara kelompok moderat maupun garis keras di dalam negeri.

Seluruh elemen negara, dari eksekutif, legislatif, hingga militer, disebut tetap berdiri dalam satu barisan menghadapi tekanan dari luar.

“Iran bukan negara yang terpecah. Kami adalah satu kesatuan, dengan rakyat dan pemerintah yang berdiri bersama,” demikian pesan yang disampaikan secara kolektif oleh para pejabat Iran.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, juga turut angkat bicara menanggapi klaim Trump tersebut.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik adalah hal yang biasa dan wajar dalam sistem pemerintahan manapun.

Namun di tengah situasi genting yang dihadapi saat ini, seluruh pihak tanpa kecuali tetap bersatu padu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menekankan bahwa koordinasi antara militer dan pemerintah berjalan dengan sangat solid.

Ia menyebut stabilitas internal ini terlihat jelas dari respons Iran terhadap berbagai tekanan dan konflik yang terjadi beberapa pekan terakhir.

Di sisi lain, Donald Trump sebelumnya berulang kali mengklaim bahwa kepemimpinan Iran mengalami keretakan internal yang parah.

Ia bahkan menyebut masyarakat Iran sendiri kesulitan mengetahui siapa yang sebenarnya memimpin negara tersebut.

Trump juga menuding adanya konflik kepentingan antara kelompok politik yang berbeda di dalam negeri Iran.

Presiden AS itu pun memberi sinyal bahwa Amerika Serikat tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan baru dengan Iran.

Ia menilai tekanan ekonomi melalui blokade laut akan semakin memperlemah posisi tawar Teheran dalam setiap perundingan.

Ketegangan antara kedua negara besar ini pun berdampak pada hubungan diplomatik yang semakin menemui jalan buntu.

Iran menyebut pembicaraan damai yang sempat direncanakan batal total akibat kebijakan blokade yang diberlakukan oleh Washington.

Situasi kawasan pun ikut memanas seiring dengan beredarnya isu penutupan Selat Hormuz dan penguatan blokade laut.

Ketidakpastian geopolitik ini kembali mendorong kenaikan harga minyak global yang meresahkan banyak negara.

Dari sisi lain, Israel juga memberi sinyal kesiapan untuk kembali terlibat aktif dalam konflik melawan Iran.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militernya siap melanjutkan operasi ofensif terhadap Iran.

Ia mengaku hanya tinggal menunggu persetujuan resmi dari Amerika Serikat untuk mulai bergerak.

Dengan kondisi yang semakin tegang, pernyataan saling klaim antara Washington dan Teheran terus berlangsung.

Konflik besar ini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Bahkan para analis memperkirakan eskalasi justru berpotensi terus meningkat seiring dengan saling adu kekuatan di kawasan Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung