Berita, Nasional

Kekecewaan Mantan Wakapolri Usai Listyo Sigit Copot Menantu Oegroseno dari Posisi Kapolres

Repelita.net

22 October 2026 13:00 WIB • 77 view

Kekecewaan Mantan Wakapolri Usai Listyo Sigit Copot Menantu Oegroseno dari Posisi Kapolres
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Tindakan pencopotan jabatan yang menimpa menantunya dari posisi Kapolres ikut dibahas oleh mantan Wakapolri Komjen Pol Purn Oegroseno dalam tayangan terbaru di kanal YouTube Obor Rakyat Reborn.

Ia mengungkapkan kekecewaannya karena institusi Bhayangkara sejatinya bukan menjadi milik pribadi dari seorang pimpinan tertinggi kepolisian melainkan kepunyaan masyarakat.

ADVERTISEMENT

Pernyataan menohok tersebut disampaikan langsung saat berbincang dalam program diskusi santai di media sosial pada hari Kamis 22 Oktober 2026.

Mantan petinggi kepolisian itu menilai keputusan sepihak tersebut sangat tidak etis lantaran sang menantu justru sedang berprestasi di wilayah tugasnya.

Tuduhan miring mengenai keterlibatan dirinya yang dianggap berseberangan arah politik dengan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dituding menjadi pemicu utama.

Ia pun memaparkan pandangan tegasnya mengenai independensi institusi dengan berujar "gara-gara punya mertua namanya Komjen Ugro Seno dicopot seharusnya enggak boleh terjadi polri itu milik rakyat milik rakyat ya Polri itu milik negara atau Polri milik bangsa polri bukan miliknya Kapolri bukan".

Kasus lama yang menyeret namanya terkait dugaan korupsi dana hibah lahan pada tahun 2011 silam juga diungkit kembali dalam sesi wawancara khusus tersebut.

Dirinya merasa heran karena pemeriksaan baru bergulir di tahun 2026 setelah belasan tahun berlalu tanpa adanya kejelasan hukum yang pasti.

Proses hukum itu dinilai penuh dengan unsur politis serta terkesan sengaja dibuat untuk mencari-cari titik kesalahan pribadinya saja.

Ia menceritakan pengalaman uniknya ketika diundang menghadiri proses klarifikasi resmi oleh tim penyidik di markas besar kepolisian.

Naluri intelijennya mendadak muncul saat pihak pemeriksa menyajikan hidangan makanan ringan berupa nasi kotak di dalam ruangan.

Kecurigaan itu membuatnya enggan menyentuh suguhan tersebut demi menjaga keamanan diri selama proses interogasi berlangsung.

Dengan gamblang mantan Kadiv Propam ini menjabarkan kronologi tersebut dengan mengatakan "waktu itu satu pamen tapi didampingi seorang jenderal juga ada makanan tapi saya kan enggak berani makan loh kita kan saya dulu saya makan Pak ya ya jiwa sabarannya saya punya iya iya nasi kotak dulu res iya jiwa staf saya juga ada ya kan di asop dulu jiwa intel kan juga ada iya iya".

Ia menegaskan komitmen moralnya untuk selalu berdiri membela pihak-pihak yang dikriminalisasi oleh oknum kekuasaan tertentu.

Langkah pembelaannya terhadap figur publik seperti Roy Suryo serta Dokter Tifa murni didasari hati nurani tanpa embel-embel politik praktis.

Sikap kritis tersebut yang diduga membuat posisinya kerap menjadi target operasi pelemahan karakter di lingkungan korps kepolisian.

Dirinya pun menutup pembicaraan mengenai prinsip hidupnya tersebut dengan menegaskan "saya itu kenapa ee membela Mas Roi sama drter Tifa karena ya saya memang karakter saya itu anti kriminalisasi kalau ada orang dikriminalisasi tergerak hati kita ya seperti itu jadi bukan wah ini harus membela membela ini bukan membela politik juga enggak ada politik apa hubungannya kan enggak ada seperti itu".(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung