Berita, Internasional

Trump dan Netanyahu Kena Semprot Senator AS Imbas Perang Iran Berkepanjangan

Repelita.net

07 May 2026 19:12 WIB • 848 view

Trump dan Netanyahu Kena Semprot Senator AS Imbas Perang Iran Berkepanjangan
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Senator Amerika Serikat Bernie Sanders melayangkan kritik pedas kepada Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait konflik bersenjata dengan Iran yang tak kunjung usai.

Menurut Sanders, kebijakan militer yang diambil kedua pemimpin tersebut justru menjadi biang keladi memperpanjang penderitaan di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Ketegangan memanas sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Serangan itu memicu aksi balasan cepat dari Teheran yang tidak hanya membalas melalui rudal, tetapi juga mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia pun nyaris lumpuh total akibat aksi saling serang dan blokade dari kedua kubu.

Upaya meredakan situasi sempat dilakukan dengan memberlakukan gencatan senjata pada 8 April 2026 melalui mediasi pemerintah Pakistan.

Namun perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan damai jangka panjang yang mengikat kedua belah pihak.

Trump kemudian memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas, tanpa kejelasan langkah selanjutnya.

Sanders pun angkat bicara dan secara terbuka mengecam kebijakan perang yang dinilainya tidak akan pernah berujung ini.

"Cukup sudah dengan perang tanpa akhir yang dilancarkan Trump dan Netanyahu," ujar Sanders pada Selasa (5/5/2026) sebagaimana dilansir Anadolu Agency.

Ia turut memaparkan data memilukan tentang jumlah korban jiwa yang terus berjatuhan akibat konflik berkepanjangan ini.

Berdasarkan angka yang dibagikan Sanders melalui platform X, Iran mencatat sekitar 3.375 orang tewas dan lebih dari 26.500 luka-luka.

Lebanon berada di posisi berikutnya dengan 2.702 korban tewas dan 8.311 orang mengalami luka-luka.

Negara-negara Teluk mencatat 28 korban tewas dan lebih dari 289 orang luka-luka akibat terkena imbas konflik.

Di pihak Israel tercatat 26 warganya tewas dan 7.791 orang lainnya menderita luka-luka.

Sementara Amerika Serikat harus kehilangan 13 personel tentaranya yang tewas serta 381 lainnya luka-luka dalam pertempuran.

Di tengah tekanan ini, Trump mengumumkan penghentian sementara upaya negaranya dalam memandu kapal-kapal dagang keluar dari Selat Hormuz.

Keputusan itu disebut sebagai langkah strategis untuk membuka ruang negosiasi baru dengan pemerintah Iran.

Meskipun begitu, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap tidak dicabut dan terus berlangsung sejak 13 April 2026.

Dalam unggahan di media sosial miliknya, Trump menjelaskan bahwa keputusan penundaan itu didasari atas berbagai pertimbangan kompleks.

"Permintaan Pakistan dan negara-negara lain, keberhasilan militer luar biasa yang telah kita raih selama kampanye melawan negara Iran dan, selain itu, fakta bahwa kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan lengkap dan final dengan perwakilan Iran."

Sebelumnya pada Senin (4/5/2026), AS mengklaim telah berhasil membuka jalur pelayaran alternatif dan menenggelamkan enam kapal kecil milik Iran.

Akan tetapi kenyataannya hanya dua kapal dagang yang berhasil melintas, sementara ratusan kapal lainnya masih terperangkap di perairan Teluk Persia.

Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah membawa dampak besar terhadap distribusi minyak, gas, dan komoditas penting dunia.

Harga bahan bakar pun melonjak drastis di pasar global, memicu guncangan ekonomi yang dirasakan oleh berbagai negara.

AS sendiri melalui operasi yang diberi nama Proyek Kebebasan berusaha memandu kapal-kapal yang terjebak untuk keluar dari zona konflik.

"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," ujar Trump.

"Proyek Kebebasan akan dimulai pada Senin pagi di Timur Tengah," tambahnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi semata-mata persoalan militer, tetapi juga sarat dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi global.

Kritik tajam dari Bernie Sanders mencerminkan kegelisahan sebagian elite politik AS terhadap strategi luar negeri Trump yang dinilai hanya akan memperpanjang penderitaan.

Langkah Trump yang mempertahankan blokade sambil membuka pintu negosiasi menunjukkan adanya pendekatan tekanan maksimal yang berisiko tinggi.

Jika tidak diimbangi dengan langkah diplomasi yang efektif, eskalasi konflik dapat meluas dan berdampak buruk pada stabilitas ekonomi dunia.

Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial, setiap keputusan militer ataupun politik di kawasan ini akan terus menjadi penentu arah pasar energi global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung