Berita, Timur Tengah

Trump Akui Sita Kapal Iran: Kami Seperti Bajak Laut, Bisnis Menguntungkan

Repelita.net

02 May 2026 19:31 WIB • 1,082 view

Trump Akui Sita Kapal Iran: Kami Seperti Bajak Laut, Bisnis Menguntungkan
Foto: Istimewa

Repelita Florida - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara blak-blakan mengakui bahwa tindakan Angkatan Laut AS yang menyita kapal-kapal Iran di Selat Hormuz ibarat aksi perompakan.

Dalam sebuah acara kampanye di Florida pada Jumat (1/5/2026), Trump dengan bangga menyebut penyitaan kargo dan minyak mentah Iran tersebut sebagai "bisnis yang sangat menguntungkan".

ADVERTISEMENT

"Kami mengambil alih kargo. Mengambil alih minyak, bisnis yang sangat menguntungkan. Siapa yang menyangka, kami seperti bajak laut, tetapi kami tidak sedang main-main," ujar Trump kepada para pendukungnya sebagaimana dikutip dari berbagai sumber internasional pada Sabtu (2/5/2026).

Trump menggambarkan secara rinci bagaimana kapal perang AS berhadapan dengan kapal tanker Iran yang mencoba menerobos blokade.

Ia menceritakan bahwa awak kapal Iran diberi peringatan berulang kali melalui pengeras suara jarak jauh sebelum tembakan peringatan dilontarkan ke ruang mesin kapal.

"Kami mendarat di atasnya dan mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargo, merebut minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan," tambah presiden ke-45 sekaligus ke-47 AS tersebut.

Dalam pembelaannya atas kebijakan blokade tersebut, Trump menuding Iran telah lama menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata geopolitik untuk menekan negara-negara lain.

"Mereka menutupnya, lalu saya menutupnya untuk kapal-kapal mereka," tegas Trump sembari merujuk pada tindakan Teheran yang memblokade jalur pelayaran strategis tersebut.

Aksi penyitaan ini terjadi dalam eskalasi konflik yang dimulai setelah AS bersama Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Iran membalas dengan serangan terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk dan kemudian menutup total Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.

Gencatan senjata sempat diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, diikuti perundingan di Islamabad pada 11-12 April, namun gagal mencapai kesepakatan permanen.

Trump kemudian secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu baru atas permintaan Pakistan, namun sejak 13 April AS justru memperketat blokade angkatan lautnya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menegaskan bahwa blokade Selat Hormuz akan berlangsung selama diperlukan, berlaku untuk semua kapal tanpa memandang kewarganegaraan.

Para ahli hukum internasional menyuarakan kekhawatiran atas pernyataan Trump yang menyerupai pengakuan tindakan ilegal di perairan internasional.

Iran sendiri belum memberikan respons resmi terhadap pengakuan kontroversial presiden AS tersebut, meski sebelumnya Teheran mengecam tindakan Washington sebagai "legalisasi pembajakan".(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung