Berita, Nasional

Dokter Tompi Kritik Kebijakan Pemerintah Netizen Curiga Ada Manuver Cuci Tangan Amankan Gibran

Repelita.net

31 October 2026 00:24 WIB • 103 view

Dokter Tompi Kritik Kebijakan Pemerintah Netizen Curiga Ada Manuver Cuci Tangan Amankan Gibran
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Pembicaraan mengenai konstelasi politik di jagat virtual kembali menghangat pascacuitan kritis yang dilemparkan oleh figur musisi sekaligus praktisi medis spesialis estetika, Teuku Adifitrian atau yang populer dengan nama Dokter Tompi.

ADVERTISEMENT

Tokoh publik yang sebelumnya dinilai berada di barisan pendukung kekuasaan ini melayangkan sentilan terbuka yang cukup menohok ke ruang siber.

Pernyataan tersebut ia bagikan melalui akun personal resminya di media sosial Threads pada Jumat (30/10/2026).

Langkah Dokter Tompi melontarkan pandangan sinis tersebut langsung memicu perhatian masif dari para pengguna internet.

Tulisannya memantik perdebatan sengit di kala gelombang pembahasan isu nasional, khususnya mengenai wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sedang gencar diulas masyarakat.

Dalam pernyataan tertulis yang diunggah melalui akun personal miliknya, dr_tompi, ia mengutarakan rasa masygul atas perkembangan tata kelola pemerintahan belakangan ini.

"Setiap bangun pagi berharap perbaikan kebijakan… eh gak kunjung berubah lbh baik. Malah makin ke sana 😰" tulis dr_tompi dalam takarir utama yang kini telah diakses oleh puluhan ribu pasang mata.

Melanjutkan keluh kesahnya di ruang digital tersebut, sang musisi kembali menyematkan kalimat lanjutan dalam utas yang sama.

Unggahan berikutnya tersebut memuat sindiran yang ditujukan secara spesifik kepada jajaran pengambil kebijakan negara.

"Tuan2 pembesar… jgn kelamaan ngaconya 😰" timpal dr_tompi menyikapi laju kerja birokrasi pemerintahan yang dipandang lamban serta membingungkan responden publik.

Kritik tajam dari figur yang dikenal dekat dengan lingkar kekuasaan ini sontak memicu arus balik tanggapan dari para warganet.

Berseberangan dengan apresiasi yang kerap didapatkan sebelumnya, sebagian besar netizen justru menunjukkan pandangan penuh keraguan.

Ruang interaksi di bawah unggahan tersebut dipadati oleh komentar yang mempertanyakan keaslian sikap politik sang praktisi medis.

Sejumlah warganet melayangkan argumen bahwa sentilan tersebut bukan merepresentasikan bentuk kesadaran politik yang murni.

Sebaliknya, pergeseran opini ini dicurigai sebagai bagian dari strategi atau manuver dari kelompok kepentingan tertentu.

Sebagian pengguna media sosial mencium adanya indikasi perubahan haluan di tengah isu pemakzulan Gibran Rakabuming Raka yang kian menyita perhatian.

Pernyataan ketidakpercayaan tersebut salah satunya dilayangkan secara sinis melalui akun digital publik.

Informasi tersebut sebelumnya diunggah oleh akun @gryffi*** yang menuliskan tanggapan sinis terhadap perubahan sikap sang musisi.

"Oh masa sih insaf? Sampe bbrp minggu lalu aja masih belain rezim. Ga masuk akal sih klo insaf beneran," tulis akun @gryffi*** menanggapi sinis.

Pandangan bernada curiga yang senada juga dilemparkan oleh pengguna internet lain di kolom komentar media sosial tersebut.

Melalui sebuah tulisan terbuka, akun @xhr.2*** menduga adanya kecenderungan keberpihakan terselubung di balik kritik tersebut.

"Bukan insaf tp dia lbh pro gibran," cetusnya.

Di sisi lain, respons dari warganet juga mengaitkan fenomena ini dengan kekhawatiran mengenai adanya upaya penyelamatan reputasi dari kelompok pendukung sebelumnya.

Langkah ini dicurigai sengaja didesain untuk memindahkan beban kesalahan atas berbagai karut-marut persoalan bangsa yang tengah terjadi.

Tujuannya agar tanggung jawab tidak dialamatkan secara penuh ke satu pihak, sekaligus berupaya mengamankan figur lain dari penilaian negatif masyarakat.

Analisis mengenai indikasi taktik pengalihan opini tersebut diuraikan secara lugas oleh salah satu pengguna Threads.

Tanggapan kritis ini disampaikan secara natural dalam ruang diskusi virtual tersebut oleh akun @gitas***.

"Nah ituu.. trust issue sih.. kayaknya mreka mau cuci tangan, lepas tanggung jawab atas KEBOBROKAN ini, biar ditimpakan ke Wowo, & si Gibran gak disalahkan..?" tulis @gita***.

Ungkapan ketidakpuasan tersebut bahkan berlanjut pada ulasan komentar berikutnya di utas yang sama.

Ia memberikan penilaian tajam mengenai kemiripan pola gerakan politik yang biasa dimainkan di ruang publik.

"Udah kebaca manuver licik si Mul, kan polanya sama. Playing victim, & memutar balik fakta..!" kritiknya.

Di tengah bergulirnya diskusi hangat mengenai arah masa depan kepemimpinan nasional dan tuntutan pemberhentian jabatan di tingkat parlemen, kehadiran opini figur publik sering kali dibaca secara politis.

Masyarakat tidak lagi memandang kritik tersebut sebagai aspirasi personal belaka, melainkan sebagai tanda adanya dinamika baru di tingkat elite.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa publik digital kini semakin selektif dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi perubahan sikap para pesohor.

Setiap pernyataan kritis di ruang terbuka kini selalu disandingkan dengan rekam jejak digital masa lalu demi menguji kebenaran motif di baliknya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung