Berita, Nasional

Tom Lembong: Tekanan Ekonomi Saat Ini Mirip Krisis 1998

Repelita.net

06 May 2026 19:22 WIB • 739 view

Tom Lembong: Tekanan Ekonomi Saat Ini Mirip Krisis 1998
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Percakapan dalam kanal Akbar Faizal Uncensored bersama Thomas Lembong kembali mengupas kegelisahan publik terhadap kondisi ekonomi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Diskusi itu tak lagi sekadar menyampaikan opini, melainkan menjadi pembacaan situasi atas tekanan ekonomi yang mulai terasa di berbagai lapisan masyarakat.

ADVERTISEMENT

Di hadapan Akbar Faizal, Tom Lembong langsung menyoroti gejala nyata yang dirasakan rakyat, yaitu lonjakan harga kebutuhan pokok dan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut.

Ia menilai kondisi ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal tekanan serius yang terakhir kali terjadi pada masa krisis moneter tahun 1998.

Menurut pandangannya, ketahanan ekonomi Indonesia saat ini sedang diuji dari berbagai sisi sekaligus secara bersamaan.

Ruang fiskal yang semakin menyempit, neraca pembayaran yang rapuh, serta arus modal yang tidak stabil menjadi tiga faktor utama yang saling memperkuat.

“Patut diragukan kita bisa bertahan sampai akhir tahun dengan tren seperti ini,” ujar Tom Lembong dengan tegas dalam diskusi tersebut.

Dalam analisis yang disampaikannya, persoalan ekonomi hari ini tidak berdiri sendiri sebagai masalah yang baru muncul.

Ia menilai sekitar dua pertiga dari kesulitan yang dihadapi saat ini merupakan warisan struktural dari kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Warisan tersebut terutama berkaitan dengan desain anggaran negara dan beban utang yang terus membayangi.

Namun yang menjadi sorotan utama baginya adalah ketiadaan kejujuran politik untuk mengakui kondisi tersebut secara terbuka kepada publik.

Ia mengkritik atmosfer kekuasaan yang dinilai anti terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak.

Menurut Tom Lembong, dalam situasi seperti ini, upaya pembungkaman opini justru akan memperbesar risiko krisis di kemudian hari.

“Kalau masalah ditutup-tutupi, dia tidak hilang—dia meledak lebih besar,” tegasnya mengingatkan.

Bagi mantan Menteri Perdagangan itu, ruang debat publik yang sehat merupakan prasyarat mutlak untuk menemukan solusi kolektif.

Di level praktis, ia mengaku telah lama mengingatkan masyarakat untuk mengamankan aset dalam bentuk yang likuid dan melakukan diversifikasi mata uang seperti dolar AS atau dolar Singapura.

Saran tersebut, menurut pengakuannya, terbukti relevan di tengah depresiasi rupiah yang terjadi dalam satu hingga dua tahun terakhir.

Tom Lembong juga menyinggung posisi Menteri Keuangan Indonesia sebagai panglima dalam menghadapi krisis ekonomi.

Ia tidak secara langsung menyalahkan siapa pun, namun menekankan pentingnya sikap yang lebih terbuka dan realistis.

Keberanian mengungkap kondisi sebenarnya kepada publik, termasuk soal warisan kebijakan masa lalu, dinilai sangat mendesak untuk dilakukan.

Lebih jauh ia mengingatkan bahwa Indonesia sedang berpacu dengan negara lain dalam memperebutkan sumber daya global yang semakin terbatas.

Mulai dari energi hingga modal investasi, semuanya menjadi medan kompetisi yang sangat ketat antarnegara.

Tanpa langkah cepat dan kebijakan yang jujur, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin sengit.

Menariknya, ketika ditanya tentang kemungkinan dirinya kembali ke pemerintahan, Tom Lembong memilih menolak dengan tegas.

Ia menyatakan tidak akan kembali kecuali ada perubahan mendasar dalam cara berpikir dan bekerja para pemimpin bangsa.

Baginya, solusi bukan sekadar pergantian orang, tetapi perubahan filosofi yang mencakup keterbukaan, kebebasan berpikir, dan keberanian menghadapi realitas.

Diskusi ini berujung pada satu pesan kunci yang sederhana namun sangat tajam maknanya.

Krisis tidak selalu datang secara tiba-tiba, tetapi sering kali diawali dengan penyangkalan terhadap masalah yang sudah terlihat.

Dan bagi Thomas Lembong, jalan keluar pertama dari segala krisis adalah keberanian untuk jujur sebelum semuanya menjadi terlambat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung