Berita, Nasional

TNI Tambah Lima Kodam Baru untuk Perkuat Sistem Perlawanan Rakyat Semesta dalam Kondisi Darurat

Repelita.net

20 September 2026 19:52 WIB • 140 view

TNI Tambah Lima Kodam Baru untuk Perkuat Sistem Perlawanan Rakyat Semesta dalam Kondisi Darurat
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Markas Besar Tentara Nasional Indonesia secara resmi mengumumkan peta jalan strategis pertahanan negara melalui rencana penambahan sebanyak lima unit Komando Daerah Militer baru di sejumlah wilayah hukum teritorial kedaulatan republik.

Langkah perluasan jangkauan komando militer tersebut berkorelasi erat dengan penguatan doktrin ketahanan wilayah sekaligus implementasi nyata dari konsep sistem perlawanan rakyat semesta di saat menghadapi ancaman agresi militer asing maupun kondisi kedaruratan nasional.

ADVERTISEMENT

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, menjelaskan bahwa pengumuman resmi mengenai peluncuran lima kesatuan teritorial baru tersebut akan diintegrasikan langsung pada momentum puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 TNI.

Saat memberikan keterangan pers di sela agenda pameran alat utama sistem persenjataan TNI Fair di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada hari Sabtu, 19 September 2026, ia berujar bahwa rencananya demikian, yang akan dibentuk Kodam baru nanti akan disampaikan lebih lanjut akan disampaikan.

Di lokasi terpisah, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, turut memberikan ulasan komprehensif mengenai penugasan pokok dari kesatuan kewilayahan tersebut yang secara prinsip bertumpu pada domain pembinaan teritorial masyarakat.

Meskipun secara spesifik setiap pangkalan pertahanan memiliki karakteristik penugasan yang dinamis, fungsi pembinaan aspek pertahanan darat tetap melekat penuh pada otoritas tertinggi di tingkat regional.

Mantan Komandan Paspampres tersebut mengonfirmasi orientasi operasional itu dengan menyatakan bahwa Jadi untuk yang Kodam, semua Kodam itu tugas utamanya adalah teritorial.

Penugasannya berbeda, sambungnya merinci pembagian peran satuan pertahanan tersebut di hadapan para wartawan nasional.

Perwira tinggi bintang empat itu menjabarkan secara taktis bahwa saat eskalasi situasi berubah menjadi status darurat perang, institusi komando wilayah inilah yang memegang mandat penuh memimpin pergerakan barisan pertahanan.

Ia menegaskan perihal doktrin keterlibatan elemen sipil dengan berkata bahwa Nah, tapi dengan kondisi darurat, Kodam inilah nanti yang memimpin untuk perlawanan terhadap musuh.

Itu dibilangnya perlawanan rakyat semesta, nanti di bawah Kodam nantinya gitu, lanjutnya menjelaskan mekanisme komando koordinasi taktis di lapangan.

Jenderal Maruli kemudian membuat diferensiasi tegas antara fungsi reguler pertahanan komando wilayah dengan model penugasan unit satuan tugas khusus yang saat ini memegang mandat penanggulangan kelompok separatis bersenjata di tanah Papua.

Pucuk pimpinan matra darat tersebut menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap Organisasi Papua Merdeka sepenuhnya diserahkan kepada unit satgas terpadu, namun dalam proses eksekusinya tetap mendapatkan pendampingan melekat.

Ia merinci pola asistensi keamanan itu dengan menyatakan bahwa Jadi kalau untuk OPM ini hanya satgas yang mengurus, tapi di bawah pendampingan Kodam.

Kehadiran fisik dari pangkalan militer tingkat regional ini juga diproyeksikan untuk mengoptimalkan akselerasi pemulihan pasca-konflik sosial setelah suatu kawasan berhasil dipastikan aman dan berada dalam kontrol penuh aparat penegak hukum.

Pada saat sebuah wilayah yang dulunya terisolasi atau luput dari pengawasan pemerintah telah berubah kondusif, maka kesatuan militer ini akan langsung masuk menggalakkan operasi bakti sosial serta asistensi kemanusiaan.

Dirinya mencontohkan urgensi kehadiran fisik tentara di tengah masyarakat dengan berujar bahwa Jadi untuk perbantuan masyarakatnya, mungkin ada satu daerah yang dulu kurang diperhatikan, sekarang sudah kondisinya bisa dikuasai aman, barulah Kodam nanti masuk ke situ untuk kegiatan teritorial.

Pada akhir sesi wawancara, KSAD membocorkan sebaran koordinat geografis yang diproyeksikan menjadi markas komando bagi lima kesatuan baru tersebut, yang meliputi wilayah Papua Tengah, Nusa Tenggara Timur, hingga Kepulauan Riau.

Ia merinci nama-nama provinsi sasaran ekspansi militer tersebut dengan menegaskan bahwa Jadi di Papua satu, di Papua Tengah.

Iya, nanti ada, ada 5 yang baru di Flores, Yogya, Malut, dengan satu lagi NTT, Kepulauan Riau, pungkas pimpinan tertinggi Angkatan Darat tersebut. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung