Repelita Jakarta - Operasi udara masif yang melibatkan armada pesawat tempur taktis zionis dilaporkan telah menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal di wilayah kantong Palestina guna mengeliminasi petinggi pertahanan faksi perlawanan.
Gempuran bersenjata tersebut menyasar sebuah kompleks hunian vertikal di kawasan pemukiman padat penduduk guna memastikan target utama mereka yakni pimpinan militer Izz al-Din al-Haddad tidak memiliki kesempatan selamat.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan jurnalistik dari media internasional pada Sabtu, 16 Mei 2026, rincian mengenai taktik penyerbuan mematikan tersebut diungkapkan secara terbatas oleh seorang petinggi korps pertahanan zionis yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Divisi Angkatan Udara Tel Aviv mengerahkan kekuatan penuh untuk melumat area hunian yang diidentifikasi sebagai lokasi persembunan rahasia pimpinan sayap komando bersenjata tersebut agar memutus ruang geraknya di lapangan.
Langkah penghancuran tersebut dibarengi dengan tindakan preventif memblokade sebuah armada roda empat yang kedapatan bergerak meninggalkan area sasaran dalam waktu bersamaan guna mengantisipasi skenario pelarian diri sang target.
Sumber intelijen militer asing tersebut membocorkan bahwa tiga unit jet tempur canggih dikerahkan secara simultan dalam operasi pemusnahan itu dengan menjatuhkan belasan hulu ledak berat tepat di titik koordinat sasaran.
Aksi pengeboman mengejutkan tersebut berlangsung sangat dinamis di tengah rapuhnya komitmen kesepakatan penghentian kontak senjata sementara yang sebelumnya sempat disepakati oleh kedua belah pihak yang bertikai.
Dampak ledakan beruntun di kawasan Rimal Kota Gaza tersebut memicu kepanikan luar biasa setelah bodi bangunan utama dilaporkan runtuh total serta memicu kobaran api yang melumat habis seluruh sisa struktur properti warga sipil.
Rekaman visual dari area sekitar memperlihatkan kepulan debu pekat dan material abu vulkanis berukuran raksasa membubung tinggi ke angkasa sesaat setelah hantaman hulu ledak menghancurkan fasilitas pemukiman tersebut.
Hanya berselang beberapa waktu pasca-operasi serangan udara dinyatakan selesai, jajaran petinggi eksekutif pemerintahan Tel Aviv langsung merilis maklumat tertulis bersama kepada khalayak internasional mengenai status operasi tersebut.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama dengan Menteri Pertahanan Israel Katz secara tegas mengumumkan bahwa otoritas tertinggi mereka telah melegitimasi instruksi langsung untuk melenyapkan nyawa sang tokoh pejuang.
Kedua pemimpin pemerintahan zionis tersebut memberikan justifikasi politis atas keputusan penyerbuan maut tersebut dengan melabeli Izz al-Din al-Haddad sebagai "komandan sayap militer Hamas dan satu di antara arsitek utama pembantaian (7/10) silam" di depan publik dunia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok