Berita, Viral Sosmed

Sindiran Prabowo ke Intelektual Jakarta di Gorontalo Picu Perdebatan Panas di Media Sosial

Repelita.net

11 May 2026 17:39 WIB • 771 view

Sindiran Prabowo ke Intelektual Jakarta di Gorontalo Picu Perdebatan Panas di Media Sosial
Foto: Istimewa

Repelita [Gorontalo] - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sindiran menohok terhadap kelompok intelektual di ibu kota saat melakukan kunjungan kerja di Kampung Nelayan Merah Putih, Kota Gorontalo, pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Kepala Negara menilai bahwa para cendekiawan di Jakarta cenderung menutup mata terhadap penderitaan yang dialami oleh masyarakat pesisir di berbagai wilayah Indonesia selama ini.

ADVERTISEMENT

Dalam orasinya di hadapan warga Kelurahan Leato Selatan, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya akan memberikan prioritas penuh untuk meningkatkan taraf hidup para nelayan dan petani secara merata.

Prabowo melontarkan pernyataan keras dengan menyebutkan bahwa "Nelayan sering dilupakan, orang-orang pintar di Jakarta tidak peduli dengan nasibnya nelayan. Berubah sekarang, pemerintah sekarang akan memperhatikan semua nelayan dan petani di seluruh Indonesia".

Pernyataan tersebut seketika memantik perdebatan hangat di media sosial X, salah satunya melalui unggahan akun @txtdaritaxpayer pada 10 Mei 2026 yang mempertanyakan alasan sang presiden kerap menyudutkan kaum intelektual.

Melalui cuitannya, akun @txtdaritaxpayer mengungkapkan keheranannya dengan menuliskan Sebenarnya ada masalah apa beliau dgn "orang pintar"? Sering banget nyindir orang pintar di pidatonya Kayak perasaan salah mulu jadi orang pintar di mata beliau Padahal kalo mau nyindir mah lebih jelas ditujukan ke orang kaya dan orang punya kuasa yg punya power dan resources.

Kritik tajam juga datang dari akun @Dospemz pada 11 Mei 2026 pukul 5.55 AM yang berpendapat bahwa sikap Prabowo tersebut merupakan indikasi adanya resistensi terhadap suara-suara kritis yang objektif.

Akun @Dospemz memaparkan analisisnya dengan mencuitkan Sikapnya yang cenderung anti-kritik dan suka membungkam suara berbeda justru menciptakan persepsi kuat bahwa ia alergi terhadap ‘orang pintar’ yang berani dan independen. Sebaliknya yang tersisa di sekitarnya adalah orang-orang pintar yang patuh dan tidak kritis.

Di sisi lain, netizen dengan akun @ichbalbudi mencoba memberikan perspektif berbeda dengan menilai bahwa sindiran tersebut ditujukan khusus bagi para pakar yang dinilai hanya lihai dalam berteori tanpa memahami realitas di lapangan.

Melalui kolom komentar, @ichbalbudi memberikan pembelaan dengan menuliskan prabowo bkn nyindir orang pintar secara umum,tpi pengamat yg dianggap kebanyakan teori, suka mengkritik,tp kurang paham kondisi lapangan dan rakyat.Gaya beliau memang lbh menekankan kerja nyata daripada debat teori.maksudnya lbh ke kepintaran harus berpihak dan ada hasilnya.

Namun, kekhawatiran akan munculnya gaya kepemimpinan otoriter yang antipati terhadap kaum terpelajar turut disuarakan oleh akun @VideoSejarah yang mengunggah referensi historis mengenai rezim masa lalu di negara tetangga.

Akun @VideoSejarah memperingatkan publik dengan menuliskan kutipan asli yakni Pada 1975-1979 ada diktator di Kamboja yang anti orang pintar, namanya Pol Pot. Orang yang dianggap pintar dieksekusi. Termasuk dosen, guru, dokter, insinyur, pengacara, seniman, orang yang bisa bahasa asing, bahkan orang yang pakai kacamata (dianggap banyak baca).

Polemik ini menunjukkan adanya ketegangan antara narasi keberpihakan rakyat yang diusung eksekutif dengan ekspektasi publik akan ruang diskusi yang sehat bersama para ahli dalam perumusan kebijakan nasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung