Repelita Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menceritakan pengalamannya saat melontarkan gurauan kepada perwakilan IMF dan Bank Dunia dengan menyebut dirinya sebagai pejabat paling malang secara global.
Kelakar tersebut dilontarkan untuk menggambarkan deretan tantangan berat yang membendung jalannya roda perekonomian nasional sejak ia resmi menduduki pos menteri.
ADVERTISEMENT
Pernyataan itu disampaikan Purbaya tatkala memberikan pengarahan dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show di BSD City Banten pada Selasa (4/8).
“Ketika saya menghadiri pertemuan IMF dan Bank Dunia April lalu, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah menteri yang paling tidak beruntung di dunia," kata Purbaya.
Ia mengungkapkan bahwasanya sesaat pascadilantik September 2025 lalu, gelombang unjuk rasa besar langsung menerpa disusul penilaian miring lembaga pemeringkat hingga eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Saat saya menjabat, saya menghadapi demonstrasi besar. Setelah demonstrasi mereda, saya menghadapi MSCI ini, dan kemudian saya menghadapi berita negatif lainnya dari Fitch dan Moody's. Setelah itu kami memperbaiki semuanya, lalu terjadilah perang di Iran,” kata dia.
Kendati dihantam gelombang persoalan eksternal, koordinasi harmonis antara otoritas fiskal dan moneter terbukti sanggup menjaga performa pertumbuhan ekonomi nasional melampaui angka lima persen.
“Faktanya adalah kami telah menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang sangat baik di tengah kondisi ekonomi dan politik global yang sangat tidak pasti. Kami masih berhasil tumbuh di atas 5%. Menurut saya, ini adalah pencapaian yang sangat baik,” katanya.
Ia turut melayangkan kritik terhadap hasil analisis lembaga pemeringkat asing dan ekonom luar negeri yang memandang sebelah mata tata kelola fiskal dalam negeri.
“MSCI, Fitch, Moody's, semuanya mengatakan bahwa saya tidak menjalankan kebijakan fiskal yang baik. Padahal, di saat yang sama, saya berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih cepat,” kata Purbaya.
Respons percaya diri pun disampaikan Purbaya untuk mematahkan keraguan dari para analis global tersebut.
“Mereka keliru. Saya pintar," katanya yang disambut tawa dan tepuk tangan audiens yang hadir di lokasi.
Menatap paruh kedua tahun berjalan, pihak pemerintah berambisi memacu laju ekspansi ekonomi agar mampu mendekati angka enam persen.
“Saya akan memastikan bahwa pada paruh kedua tahun ini, ekonomi kita dapat tumbuh mendekati 6%. Saya akan mengerahkan segala upaya, setiap kebijakan yang memungkinkan dari sisi fiskal maupun moneter untuk memastikan bahwa ekonomi domestik dapat tumbuh sesuai potensinya,” kata dia.
Di samping itu, Purbaya mengapresiasi keputusan S&P Global Ratings yang tetap mengamankan peringkat utang Indonesia di posisi BBB dengan prospek stabil pascadiskusi mendalam bersama jajaran pimpinan negara.
“S&P tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mereka berdiskusi dengan kita secara detail dan melihat kebijakan fiskal, moneter, serta kebijakan Presiden Prabowo. Akhirnya mereka bisa melihat memang kita bergerak ke arah yang betul,” kata Purbaya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok