Repelita Jakarta - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan pernyataan tajam dengan menyebut bahwa ancaman nyata bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto justru datang dari loyalis Joko Widodo.
Ia menegaskan bahwa kelompok yang ingin mendestabilisasi kekuasaan saat ini bukanlah barisan oposisi, melainkan elemen-elemen pendukung mantan presiden yang masih bercokol di dalam struktur pemerintahan.
ADVERTISEMENT
“Yang mau menjatuhkan Prabowo adalah Jokower dan gerombolan yang ada dalam pemerintah,” kata Said Didu dalam diskusi bertajuk Apakah Gerakan Pemakzulan Prabowo Itu Realistis? di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 7 Mei 2026.
Said Didu berpendapat bahwa kemarahan kelompok tersebut dipicu oleh kebijakan tegas Prabowo yang mulai mengusik kenyamanan para oligarki, khususnya terkait penataan sektor sumber daya alam.
Langkah Presiden yang melakukan penertiban pada wilayah hutan, perkebunan sawit, serta sektor pertambangan dinilai menjadi ancaman bagi pihak-pihak yang selama ini menikmati keuntungan besar dari praktik ilegal.
“Pelindung oligarki ini merampok negara dengan tiga cara sekaligus,” kata Said Didu memberikan gambaran mengenai besarnya potensi kerugian negara akibat ulah kelompok penyokong kepentingan tertentu tersebut.
Lebih lanjut, ia menyoroti keberadaan empat figur sentral di ring satu istana yang ia labeli sebagai loyalis sejati Joko Widodo yang kini menduduki posisi strategis di dekat Prabowo.
Keempat nama yang disebutkan meliputi Sekretaris Kabinet Teddy, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Kepala Badan Komunikasi Muhammad Qodari, hingga penasihat khusus Hasan Nasbi.
Kekhawatiran Said Didu memuncak pada dominasi para tokoh tersebut yang dianggap bisa membelokkan arah kebijakan atau bahkan menjadi mata-mata bagi kepentingan penguasa terdahulu.
“Coba bayangkan 3-4 Jokower ditempatkan. Satu Teddy, dua Dudung, tiga Qodari, empat Hasan Nasbi,” kata Said Didu menutup argumennya mengenai kepungan orang-orang lama dalam kabinet baru.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok