Repelita [Jakarta] - Analis kebijakan publik Muhammad Said Didu menyoroti karakter kepemimpinan Joko Widodo yang dinilai sangat sulit melepaskan cengkeraman kekuasaan yang telah dipegangnya selama satu dekade terakhir.
Melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Jumat (3/7/2026), Said Didu memaparkan berbagai manuver yang diduga dilakukan mantan presiden tersebut untuk tetap mempertahankan pengaruhnya.
ADVERTISEMENT
Bahkan saat masih berkuasa, Jokowi mencetuskan tiga periode, ungkap Said Didu mengawali analisisnya mengenai ambisi politik yang pernah mencuat.
Guna memuluskan target tersebut, sejumlah pimpinan partai politik pun sempat dikerahkan, seperti Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, hingga Zulkifli Hasan, termasuk keterlibatan AA Lanyalla Mahmud Mattalitti.
Namun, skenario perpanjangan masa jabatan tersebut akhirnya kandas karena terbentur konstitusi Pasal 7 UUD 1945 serta penolakan keras dari Megawati Soekarnoputri.
Selain itu tak direstui Megawati, tegas Said Didu menjelaskan hambatan politik yang menghadang jalan sang mantan kepala negara saat itu.
Gagal di jalur tersebut, strategi pun dialihkan dengan mendorong putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk berlaga dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2024.
Jokowi lalu paksakan anaknya lewat keputusan MK, ujar Said Didu, seraya menyinggung peran krusial Mahkamah Konstitusi dalam proses perubahan aturan usia calon pemimpin saat itu.
Keterlibatan Anwar Usman selaku Ketua MK yang memiliki ikatan keluarga dengan Jokowi disebut menjadi faktor kunci dalam meloloskan jalan Gibran menuju kursi kekuasaan.
Upaya-upaya yang melibatkan berbagai institusi negara ini dipandang sebagai bukti nyata bagaimana mekanisme hukum digunakan demi melanggengkan dinasti politik setelah masa jabatan resmi berakhir.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok