Berita, Nasional

Rupiah Tembus Rp 17.600, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Kondisi Ekonomi RI Tidak Seburuk Krisis 1998

Repelita.net

18 May 2026 15:00 WIB • 833 view

Rupiah Tembus Rp 17.600, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Tegaskan Kondisi Ekonomi RI Tidak Seburuk Krisis 1998
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gejolak di pasar valuta asing domestik yang membuat mata uang Garuda terdepresiasi hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp 17.600 per dollar AS kembali memantik kecemasan di kalangan masyarakat luas.

Kekhawatiran akan berulangnya nestapa krisis finansial hebat tahun 1998 silam mulai menyeruak ke permukaan, terutama mengingat faktor eksternal dari gejolak pasar keuangan global yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

ADVERTISEMENT

Meskipun demikian, otoritas eksekutif memberikan jaminan kuat bahwa profil ketahanan fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat prima dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa kelam puluhan tahun yang lalu.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melayangkan seruan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak terjebak dalam arus kepanikan massal yang kontraproduktif dalam merespons fenomena pelemahan kurs rupiah yang tengah berlangsung saat ini.

Menurut pandangan Menkeu, struktur fundamental perekonomian domestik saat ini masih tergolong sangat kokoh dan pemerintah telah memetakan dengan cermat langkah-langkah mitigasi strategis yang diperlukan guna menjaga stabilitas makroekonomi secara menyeluruh.

Penegasan fundamental tersebut disampaikan oleh Purbaya di sela-sela agenda kerjanya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, di mana dirinya menggarisbawahi bahwa komparasi kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan tragedi krisis moneter 1998 adalah hal yang tidak tepat sama sekali.

Melalui kutipan langsung pada Jumat, 16 Mei 2026, Purbaya menegaskan sikap pemerintah, “Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujarnya guna meredam spekulasi liar di publik.

Pernyataan lugas dari bendahara negara tersebut sekaligus menjadi representasi sikap tegas pemerintah untuk menenangkan gejolak kekhawatiran publik di tengah tekanan arus keluar modal asing serta ketidakpastian dinamika ekonomi global yang terus berevolusi.

Lebih jauh, Purbaya menguraikan bahwa mandat utama dalam menjaga kestabilan nilai tukar mata uang domestik berada di bawah wewenang otoritas Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tertinggi di tanah air.

Meskipun demikian, jajaran Kementerian Keuangan tidak tinggal diam dan telah merumuskan serangkaian langkah kebijakan pendukung strategis agar tekanan inflasi barang impor serta volatilitas di pasar keuangan domestik dapat dikendalikan dengan baik.

Sinergi dan koordinasi harmonis antara pemerintah selaku pemegang kebijakan fiskal dan otoritas moneter dinilai menjadi kunci krusial agar daya tahan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah badai eksternal.

Terkait kolaborasi tersebut, Menkeu memaparkan langkah konkret pemerintah, “Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market,” imbuhnya memberikan penjelasan teknis.

Di tengah situasi tekanan global yang masif, perhatian besar pemerintah kini dicurahkan sepenuhnya terhadap upaya menjaga stabilitas pasar surat utang negara atau bond market dari potensi aksi jual berlebihan.

Menkeu memberikan penilaian bahwa pasar instrumen surat berharga negara memegang peranan vital dalam menjaga tingkat kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang dari fundamental perekonomian Indonesia.

Jika stabilitas di pasar obligasi negara dapat dipertahankan dengan baik, para pemegang modal global diyakini tidak akan melakukan penarikan modal secara drastis dari pasar keuangan domestik dalam waktu singkat.

Stabilitas pasar obligasi negara menjadi sangat penting untuk menahan laju arus keluar modal asing yang bisa memberikan tekanan depresiasi tambahan yang jauh lebih berat terhadap nilai tukar mata uang Garuda.

Bendahara negara tersebut menguraikan dinamika psikologis investor global yang biasanya cenderung mengkhawatirkan risiko kerugian modal atau capital loss akibat penurunan tajam harga instrumen obligasi.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, upaya menjaga kestabilan harga instrumen obligasi negara menjadi salah satu pilar strategi utama pemerintah untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga arus modal tetap bertahan.

Apabila kondisi fundamental di pasar obligasi negara menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang nyata dan harga surat utang kembali menguat secara signifikan, para pemilik modal global justru memiliki potensi untuk meraih keuntungan dari selisih harga atau capital gain.

Situasi tersebut diyakini oleh Menkeu bakal menjadi daya tarik yang cukup kuat untuk kembali memantik aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik di masa mendatang.

Menkeu memaparkan optimisme tersebut, “Kalau bond market stabil, orang itu enggak jual, mereka enggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang. Apalagi kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain, biasanya mereka suka,” ujar Purbaya dengan penuh keyakinan.

Rangkaian penjelasan tersebut merefleksikan upaya proaktif pemerintah dalam menjaga sentimen pasar agar tekanan terhadap rupiah tidak bergulir menjadi kepanikan masif yang berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi real.

Walaupun terjadi tekanan depresiasi yang cukup tajam terhadap nilai tukar rupiah, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menilai bahwa situasi saat ini masih berada dalam batas-batas yang dapat dikendalikan dengan baik.

Berbagai instrumen kebijakan serta koordinasi harmonis antara jajaran Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia telah disiapkan secara matang guna memagari stabilitas ekonomi nasional dari risiko krisis sistemik.

Di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh dengan ketidakpastian, pemerintah berusaha memberikan jaminan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang aman dan tidak mengarah pada krisis moneter seperti tragedi 1998.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung