Repelita Jakarta - Manuver politik teranyar yang bakal dilakoni oleh mantan kepala negara Joko Widodo berupa safari domestik ke berbagai wilayah nusantara pada pertengahan tahun ini memicu analisis kritis dari kalangan oposisi parlementer.
Langkah strategis tersebut dinilai oleh fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, bukan sekadar momentum nostalgia atau silaturahmi biasa dengan barisan simpatisan akar rumput di daerah.
ADVERTISEMENT
Menurut kalkulasi politiknya, pergerakan masif sang mantan presiden membawa tendensi rivalitas terselubung yang berpotensi mengganggu stabilitas kekuasaan eksekutif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Melalui rilis analisisnya pada Senin, 18 Mei 2026, Guntur Romli membedah maksud tersembunyi di balik rencana kunjungan kerja independen tersebut, “Pertama, ini pesan halus sekaligus ancaman bagi Prabowo. Jokowi ingin menyatakan: ‘Saya masih diperhitungkan’,” tuturnya memberikan catatan tebal.
Eksistensi politik di hadapan publik dinilai sengaja dirawat kembali oleh kubu mantan walikota Solo tersebut sebagai modal utama guna mengkonsolidasikan simpul-simpul kekuatan loyalis di tengah dinamika kabinet pemerintahan baru.
Lebih lanjut, politisi partai berlambang banteng moncong putih ini turut menyoroti posisi strategis Gibran Rakabuming Raka di tampuk kekuasaan wakil presiden yang diproyeksikan sebagai instrumen pelestari pengaruh trah politik bapaknya.
Guntur mengaitkan eskalasi safari daerah ini sebagai fondasi awal investasi politik jangka panjang menuju kontestasi elektoral akbar perebutan kursi kepemimpinan nasional pada periode mendatang.
Agenda perluasan pengaruh sosiopolitik tersebut dipandang sebagai benteng pertahanan dinasti di tengah dominasi basis dukungan militer dan geopolitik mandiri yang kian mengakar kuat pada sosok sang presiden petahana.
Politisi PDIP tersebut memproyeksikan skenario keretakan koalisi penguasa sebagai pemicu utama di balik bergeraknya sang mantan presiden ke berbagai wilayah, “Atau, ini persiapan jangka panjang menyaingi 2029, menjaga pengaruh dinasti Jokowi di tengah Prabowo yang punya basis sendiri, kalau pasangan Prabowo-Gibran cerai di tengah jalan,” ujarnya menandasi analisis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok