Repelita Jakarta - Reaksi yang diperlihatkan oleh Partai Solidaritas Indonesia dalam menghadapi jawaban Jusuf Kalla terkait pelaporan hukum atas dugaan penistaan agama kini memicu gejolak politik yang sangat besar.
Erizal menilai situasi ini semakin menyudutkan PSI karena para tokoh sentral yang terlibat dalam pusaran konflik tersebut memiliki keterikatan historis dan emosional yang sulit dipisahkan dari internal partai.
ADVERTISEMENT
Perseteruan ini berawal dari munculnya tuduhan bahwa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla merupakan penyokong dana bagi Roy Suryo dan kawan-kawan yang dilemparkan oleh pihak-pihak pendukung Presiden Jokowi.
Menyikapi hal tersebut Jusuf Kalla memilih jalur hukum untuk mempolisikan mereka sekaligus melontarkan tantangan agar Presiden bersedia membuka ijazahnya yang selama ini menjadi simbol perjuangan politik bagi PSI.
Kondisi partai mulai tampak tidak tenang saat Jusuf Kalla justru dilaporkan balik atas unggahan rekaman video lamanya oleh kelompok tertentu yang secara terang-terangan bernaung di bawah bendera partai tersebut.
Erizal mencermati seluruh elemen yang terlibat mulai dari pihak penyerang hingga para pelapor di kepolisian termasuk figur populer seperti Ade Armando dan Grace Natalie merupakan bagian tak terpisahkan dari PSI.
Upaya mediasi sebenarnya sempat direncanakan oleh Ketua Harian Ahmad Ali namun Jusuf Kalla merespons dengan sangat serius dengan mengumpulkan para tokoh perdamaian dari wilayah Poso dan Ambon di kediamannya.
Bukannya segera mengambil langkah diplomatis untuk meredakan suasana pihak partai justru terkesan memberikan tantangan balik dengan menegaskan bahwa laporan terhadap Jusuf Kalla tetap akan dilanjutkan.
Keresahan di internal partai semakin memuncak ketika sekitar empat puluh organisasi kemasyarakatan Islam berkumpul untuk mengambil tindakan hukum terhadap Ade Armando serta Grace Natalie dan Permadi Arya.
Guna menghindari dampak negatif serta menjaga agar nama besar institusi tidak terus terseret dalam polemik pribadi maka Ade Armando akhirnya mengambil keputusan drastis untuk mundur dari keanggotaan partai.
Meskipun secara internal partai mengklaim tidak ada aturan organisasi yang dilanggar namun pelepasan Ade Armando dianggap sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan martabat partai di mata publik luas.
Sikap partai yang mulai menjaga jarak juga terlihat jelas saat muncul penegasan bahwa sosok Grace Natalie yang merupakan wajah utama organisasi tidak akan mendapatkan bantuan hukum secara institusi.
Keputusan PSI untuk merelakan hilangnya sosok ikonik yang telah membesarkan nama partai sejak awal berdiri menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam upaya melepaskan diri dari perkara hukum tersebut.
Selain kedua nama besar tersebut muncul pula nama Permadi Arya alias Abu Janda dalam jajaran terlapor namun pihak partai memberikan klarifikasi resmi bahwa yang bersangkutan bukanlah bagian dari kader mereka.
Erizal berpendapat bahwa rentetan peristiwa ini merupakan bagian dari ambisi besar partai untuk membersihkan nama baik mereka dari berbagai tudingan yang selama ini dianggap memiliki sentimen anti-Islam.
Ade Armando sempat memberikan pernyataan bahwa segala tindakan yang ia tempuh saat ini bersama dengan pihak partai merupakan bagian dari sebuah skema strategi tertentu yang telah direncanakan sebelumnya.
Namun pernyataan mengenai diksi strategi tersebut segera dikoreksi dengan penjelasan bahwa seluruh langkah yang diambil saat ini murni merupakan panggilan hati yang sangat dalam untuk melindungi integritas partai.
Motivasi utama di balik pengunduran diri tersebut adalah keinginan kuat untuk memastikan agar reputasi partai tidak mengalami kerusakan permanen akibat permasalahan pribadi yang sedang dihadapi oleh kader-kadernya.
Erizal menilai bahwa reputasi keislaman yang melekat pada Jusuf Kalla sangatlah kuat sehingga serangan yang diarahkan kepadanya justru bisa berbalik menjadi ancaman serius yang menakutkan bagi pihak pelapor.
Mengingat kedudukan beliau sebagai Ketua Dewan Masjid serta tokoh perdamaian nasional maka tudingan sebagai penista agama menurut Erizal sangat tidak tepat sasaran dan merupakan tindakan yang dianggap dungu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok