Berita, Nasional

Profesor Ryaas Rasyid Hardik Prabowo: Manusia Ini Harus Minta Tolong Kepada Tuhannya

Repelita.net

21 September 2026 16:41 WIB • 53 view

Profesor Ryaas Rasyid Hardik Prabowo: Manusia Ini Harus Minta Tolong Kepada Tuhannya
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kritik tajam datang dari Profesor Ryaas Rasyid terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait pernyataan sang kepala negara mengenai pakar yang dinilai terlalu pintar hingga berubah menjadi bodoh. Mantan Menteri Negara Otonomi Daerah tersebut menilai ucapan itu mencerminkan sebuah problem yang cukup mendasar dalam pola kepemimpinan nasional saat ini.

Pernyataan yang menohok tersebut diungkapkan oleh Profesor Ryaas Rasyid dalam sebuah sesi diskusi yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV bersama pemandu acara Darmawan Sepriyossa pada 21 September 2026. Menurutnya, seorang pemimpin tertinggi negara semestinya tidak mengumbar kemarahan apalagi melontarkan umpatan di hadapan masyarakat luas karena tindakan itu dinilai kurang etis.

ADVERTISEMENT

Secara tegas mantan pejabat era reformasi tersebut menyatakan, “Marah di depan umum sebenarnya haram bagi seorang pemimpin. Mengumpat adalah sesuatu yang tercela.” Ia memandang sikap emosional yang ditunjukkan secara terbuka itu justru menjadi cerminan dari rendahnya kualitas kepemimpinan yang kurang layak dipertontonkan di ruang publik.

Profesor Ryaas Rasyid kemudian membandingkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan mertuanya sendiri, yakni Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto. Beliau mengingatkan bahwa sang petahana tampaknya tidak mengambil pelajaran berharga dari cara memimpin tokoh Orde Baru tersebut yang dikenal sangat tenang saat berada di hadapan rakyat.

Dalam tayangan media sosial tersebut, ia menegaskan, “Selama memimpin pemerintahan, Pak Harto tidak pernah marah di depan umum, apalagi memaki orang di depan umum.” Figur Soeharto dinilai memiliki kemampuan kontrol diri yang sangat luar biasa serta tidak pernah sekalipun terekam melontarkan makian kepada publik sepanjang masa jabatannya.

Kelemahan mendasar dari gaya kepemimpinan sang presiden saat ini dinilai tidak lepas dari latar belakang kariernya yang murni berada di dunia militer tanpa adanya pengalaman matang dalam menakhodai birokrasi pemerintahan sipil. Akibat rekam jejak yang lebih banyak menghabiskan waktu pada lingkaran komando, aspek manajerial sipilnya menjadi kurang teruji.

Hal tersebut berdampak langsung pada minimnya kapasitas dalam merespons perbedaan pandangan politik serta mengelola berbagai aspirasi dan kepentingan masyarakat luas secara dinamis. Profesor Ryaas Rasyid juga menggarisbawahi bahwa problematika yang kini sedang mendera bangsa Indonesia berada dalam kondisi yang sangat pelik dan multidimensi.

Kondisi ekonomi makro nasional seperti lonjakan inflasi, ketidakstabilan nilai devisa negara, serta situasi perekonomian domestik yang belum juga menentu kini menjadi beban yang teramat berat bagi pemerintah. Target swasembada pangan pun dirasa masih sangat jauh dari harapan sementara potret situasi nasional digambarkan sedang berada di bibir jurang.

Melihat badai krisis yang sedang mengintai tersebut, ia berkeyakinan bahwa model kepemimpinan komando yang diterapkan saat ini tidak akan mampu merumuskan jalan keluar yang efektif. Pola pendekatan kekuasaan yang kaku diyakini tidak akan pernah bisa menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks serta membutuhkan langkah yang lebih inklusif.

Ia pun berpendapat, “Bahkan jika semua orang terpintar di dunia didatangkan ke Indonesia, orang-orang terpintar di dunia datang ke Indonesia untuk mengelola Indonesia saat ini, persoalan ini tidak akan selesai dengan pola yang sekarang. Masalahnya adalah ketidakmampuannya. Tidak ada solusi. Tidak ada solusi yang mungkin. Mustahil. Ini masalah kepribadian. Tidak mau belajar.”

Enggannya pemerintah untuk membuka diri dan belajar dari kekeliruan dipandang sebagai akar dari segala permasalahan bangsa yang paling krusial untuk disembuhkan saat ini. Dampaknya, kehadiran puluhan pakar terbaik dari berbagai belahan dunia sekalipun diperkirakan akan berujung sia-sia apabila sistem kerja kepemimpinan pusat tidak dirombak.

Di sisi lain, Profesor Ryaas Rasyid melihat tidak ada satu pun figur kuat di lingkaran istana yang memiliki kapasitas untuk memberikan masukan secara efektif kepada kepala negara. Ketika pemandu acara mempertanyakan siapa sosok yang dinilai mampu menasihati sang presiden, ia hanya memberikan jawaban pendek bahwa dirinya tidak melihat keberadaan figur tersebut.

Melihat kebuntuan politik di tingkat elite, ia menyimpulkan bahwa satu-satunya momentum perbaikan hanya dapat terwujud apabila sang pemimpin bersedia melunakkan hati serta mendekatkan diri kepada sang pencipta. Hal ini menjadi pesan spritual yang sangat mendalam di tengah situasi krisis multidimensi yang sedang melanda internal pemerintahan.

Menutup argumennya dalam dialog tersebut, ia memberikan pernyataan yang sangat keras, “Manusia ini harus minta tolong kepada Tuhannya...!!!” Kalimat yang menjadi sorotan utama ini menegaskan bahwa tanpa adanya kesadaran spritual yang kuat serta kerendahan hati untuk menerima kritik, maka perbaikan tata kelola pemerintahan mustahil terjadi.

Oleh karena itu, situasi pelik ini menuntut tingkat kesabaran yang luar biasa dari seluruh elemen rakyat mengingat tantangan yang sedang dihadapi ke depan akan jauh lebih masif. Aspek kualitas kepemimpinan nasional pun mutlak menjadi sumbu utama dari seluruh dinamika serta problematika kebangsaan yang sedang bergulir saat ini.

Apabila cara mengelola negara yang cenderung otoriter ini terus dipertahankan tanpa adanya sebuah reformasi internal yang radikal, maka potensi bangsa untuk terperosok ke dalam krisis yang lebih dalam akan semakin nyata. Profesor Ryaas Rasyid pun mengimbau publik agar tidak menganggap remeh situasi terkini dan tetap mengawal arah kebijakan negara.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung