Repelita Selat Hormuz - Ketegangan di kawasan Teluk Persia memasuki babak baru setelah Prancis mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle menuju perairan Laut Merah.
Langkah militer yang diambil Presiden Emmanuel Macron ini disebut-sebut sebagai persiapan untuk misi pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini masih diblokade oleh Iran .
ADVERTISEMENT
Keputusan Prancis untuk menggerakkan armada kebanggaannya itu sontak memicu respons balasan yang sangat keras dari Teheran.
Pemerintah Republik Islam Iran melalui otoritas militernya langsung melontarkan ultimatum yang tidak bisa ditawar-tawar kepada Paris.
“Kami memperingatkan Prancis bahwa jika Anda melintasi Selat Hormuz atau bergerak menuju Republik Islam, kami akan membalas dengan serangan rudal, dan kemudian perang bisa dimulai,” demikian bunyi peringatan keras yang dilansir dari sumber militer Iran .
Peringatan ini menjadi eskalasi verbal tertinggi yang pernah dilontarkan Teheran kepada negara Eropa pasca pecahnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Prancis sendiri mengklaim bahwa pengerahan kapal induk bertenaga nuklir sepanjang 261 meter dengan 40 pesawat tempur Rafale itu bertujuan untuk mengirimkan sinyal kekuatan.
Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa misi ini bersifat defensif dan bertujuan memulihkan kebebasan navigasi yang merupakan hak internasional di jalur perdagangan minyak dunia .
“Semua pihak harus mengakhiri blokade selat itu, tanpa penundaan dan tanpa syarat,” tulis Macron dalam unggahan di media sosial X .
Namun, bagi Iran, kedatangan kapal perang asing di dekat perairan teritorialnya merupakan pelanggaran kedaulatan yang tidak bisa ditoleransi.
Sebelumnya, Iran telah membuktikan keseriusannya dengan menggagalkan misi “Project Freedom” yang dicanangkan Presiden AS Donald Trump.
Bahkan media Iran melaporkan bahwa sebuah fregat milik Angkatan Laut Amerika Serikat sempat terkena hantaman rudal dan terpaksa memutar balikkan haluannya ketika mencoba memaksa masuk ke Selat Hormuz .
“Kami akan menyerang pasukan bersenjata asing mana pun yang mencoba mendekati atau memasuki selat tersebut, terutama, tentara AS yang agresif,” ujar seorang komandan militer Iran beberapa waktu lalu .
Kini ancuman serupa dialamatkan kepada Prancis, yang notabene adalah sekutu dekat Washington di kancah Eropa.
Para analis militer internasional menilai bahwa langkah Macron ini adalah taruhan besar yang bisa memicu perang terbuka di kawasan Teluk.
Meskipun Paris mengklaim mengerahkan kapal induknya hanya sebagai persiapan dan akan menunggu situasi kondusif, Iran menilai kehadiran militer asing sekecil apa pun sebagai provokasi.
“Ini untuk mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana ini sesuai dengan situasi yang memungkinkan,” bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Prancis, seperti dikutip AP .
Namun argumen itu ditolak mentah-mentah oleh Teheran yang justru melihatnya sebagai ancaman eksistensial di ambang perang.
Hingga berita ini diturunkan, posisi kapal induk Charles de Gaulle masih terus dipantau, sementara dunia internasional menahan napas menunggu langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya militer ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok