Berita, Internasional

Pilot Korsel Selfie Pakai Ponsel, Dua Jet F-15K Tabrakan di Udara

Repelita.net

02 May 2026 21:09 WIB • 956 view

Pilot Korsel Selfie Pakai Ponsel, Dua Jet F-15K Tabrakan di Udara
Foto: Istimewa

Repelita Seoul - Otoritas Korea Selatan untuk pertama kalinya mengungkap penyebab insiden tabrakan dua jet tempur F-15K milik Angkatan Udara pada Desember 2021, yang ternyata dipicu oleh aksi pilot yang ingin mengambil swafoto dan video selama penerbangan.

Badan Audit dan Inspeksi (BAI) Korea Selatan merilis laporan lengkap pada 22 April 2026 yang mengungkap kronologi kecelakaan di dekat Daegu tersebut, yang melibatkan seorang pilot berpangkat mayor yang melakukan manuver berbahaya di luar rencana penerbangan.

ADVERTISEMENT

Insiden memalukan itu terjadi karena sang pilot ingin mengambil foto untuk memperingati penerbangan terakhirnya bersama unit militernya, sebuah praktik yang diakui BAI sebagai kebiasaan umum di kalangan pilot Angkatan Udara pada saat itu.

"mengambil foto penerbangan penting adalah praktik yang lazim di kalangan pilot pada saat itu," demikian isi laporan BAI yang dikutip dari berbagai sumber internasional pada Sabtu (2/5/2026).

Sebelum penerbangan dimulai, pilot tersebut telah menyatakan niatnya untuk melakukan sesi foto dalam sebuah pengarahan, lalu ia bertugas sebagai pilot pesawat pendamping yang mengikuti pesawat utama selama misi.

Saat rombongan pesawat sedang dalam perjalanan pulang menuju pangkalan mereka, pilot pendamping mulai mengambil gambar menggunakan ponsel pribadinya dengan cara yang membahayakan.

Pilot pesawat utama yang menyadari aksi tersebut kemudian meminta awak di pesawatnya untuk merekam video pesawat pendamping dari kejauhan.

Tiba-tiba, tanpa koordinasi yang matang, pilot pendamping menerbangkan jetnya ke ketinggian yang lebih tinggi dan membalikkan posisi pesawat agar bisa terekam lebih baik oleh kamera rekannya.

Manuver berbahaya ini mengakibatkan kedua pesawat tempur canggih tersebut terbang dengan jarak yang sangat dekat dan membahayakan satu sama lain.

Pilot pesawat utama yang berusaha menghindari tubrukan langsung mengambil keputusan untuk menurunkan ketinggian pesawatnya secara drastis, namun upaya tersebut gagal mencegah bencana.

Kedua jet tempur F-15K buatan Amerika Serikat itu akhirnya saling bertabrakan di udara dalam insiden yang nyaris menewaskan seluruh awak pesawat.

Meskipun kedua pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa korban jiwa, kerusakan yang dialami sangat parah dengan sayap kiri pesawat utama dan penstabil ekor pesawat pendamping hancur akibat benturan.

Nilai total kedua aset militer tersebut mencapai angka fantastis 135 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp2,3 triliun, dengan biaya perbaikan langsung mencapai 880 juta won (Rp10,2 miliar).

Pilot yang memicu manuver berbahaya tersebut langsung diskors dari dinas dan kemudian memilih keluar dari militer untuk beralih profesi menjadi pilot maskapai komersial.

Awalnya, ia dituntut untuk membayar penuh seluruh biaya perbaikan pesawat yang nilainya sangat besar, namun pilot tersebut mengajukan banding dan memicu penyelidikan lebih lanjut oleh badan audit.

Pilot pendamping tersebut mengakui bahwa manuver mendadak yang dilakukannya menjadi penyebab utama tabrakan kedua pesawat tempur tersebut.

Akan tetapi, ia berpendapat bahwa pilot pesawat utama secara diam-diam telah menyetujui manuver tersebut karena menyadari bahwa proses pengambilan gambar sedang berlangsung.

Berdasarkan pertimbangan tersebut dan rekam jejak pilot yang dinilai baik selama bertugas, badan audit memutuskan bahwa ia hanya perlu membayar 10 persen atau sekitar 87,8 juta won (Rp1 miliar) dari total kerugian.

Dewan audit juga menyoroti kelalaian institusional dengan menyebutkan bahwa Angkatan Udara Korea Selatan harus memikul sebagian tanggung jawab karena tidak mengatur dengan benar penggunaan kamera pribadi oleh para pilotnya.

Laporan tersebut juga memuji pilot yang sama karena berhasil mencegah kerusakan lebih lanjut dengan segera mengendalikan kembali pesawatnya ke pangkalan dengan aman pasca-tabrakan.

Namun laporan tersebut tidak menyebutkan secara rinci apakah ada tindakan disipliner yang diambil terhadap pilot pesawat utama atau awak lainnya yang terlibat dalam insiden tersebut.

Angkatan Udara Korea Selatan baru merilis detail insiden ini setelah menutup rapat informasi selama empat tahun lamanya dari publik.

Pada 23 April 2026, pihak militer akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi secara terbuka atas kejadian yang nyaris berujung petaka tersebut.

Mereka berjanji akan segera mereformasi budaya keselamatan penerbangan secara menyeluruh guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Investigasi ini menyoroti betapa longgarnya prosedur keamanan dalam militer Korea Selatan, di mana praktik lazim mengambil foto kenang-kenangan justru hampir berakhir dengan tragedi fatal yang merugikan negara triliunan rupiah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung