Repelita Washington, DC - Di balik ketenangan langit ibu kota Amerika, ruang-ruang kekuasaan justru dipenuhi ketegangan tak kasatmata menjelang kesaksian perdana Pete Hegseth tentang perang Timur Tengah yang belum menemukan ujungnya.
Dua bulan sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang kawasan, Iran masih bergeming dengan Selat Hormuz tetap berada dalam cengkeraman blokade jalur vital energi dunia.
ADVERTISEMENT
Kapal-kapal dagang melambat, harga minyak mulai merangkak naik, dan pasar global bergetar mengikuti irama konflik yang belum juga menunjukkan tanda-tanda reda.
Di Gedung Putih, Donald Trump dengan lantang mengklaim bahwa Iran telah "dikalahkan secara militer" di hadapan tamu kenegaraan termasuk Raja Inggris seolah ingin menegaskan dominasi.
Namun dari Teheran, suara berbeda menggema ketika militer Iran menyatakan perang belum usai dan mereka masih menyimpan banyak kartu untuk dimainkan jika pertempuran berlanjut.
Upaya damai yang sempat berpendar kini meredup seiring proposal Iran yang difasilitasi Pakistan tidak sepenuhnya memikat Washington.
Marco Rubio menyebut tawaran pelonggaran blokade Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan tekanan ekonomi itu "lebih baik dari perkiraan" namun tetap meragukan pihak otoritas Iran yang mengajukannya.
Di kawasan Teluk, kegelisahan meningkat drastis karena negara-negara yang bergantung pada jalur energi global mulai menyuarakan kekhawatiran akan situasi konflik beku tanpa perang terbuka namun tanpa kedamaian pasti.
Harga minyak pun melonjak tajam dengan Brent melampaui level pra-gencatan senjata sementara West Texas Intermediate menembus angka psikologis yang mengkhawatirkan pasar.
Sementara itu, konflik baru merembet ke pihak lain ketika di perbatasan Lebanon serangan dan balasan terus berlangsung meski gencatan senjata resmi telah diperpanjang.
Ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali menelan korban jiwa, menandakan bahwa perang ini tidak berdiri sendiri melainkan menjalar membentuk simpul-simpul konflik baru.
Di dalam negeri Amerika, tekanan politik mulai terasa menjelang pemilu paruh waktu ketika membengkaknya harga energi menjadi beban berat bagi pemerintahan Trump.
Kritik tajam juga datang dari Eropa, termasuk Kanselir Jerman yang menilai Washington belum memiliki strategi yang jelas di Iran, kritik yang langsung dibalas keras oleh Trump.
Kesaksian Hegseth di Kongres bukan sekadar formalitas belaka karena ia menjadi cermin dari situasi lebih besar tentang perang yang belum selesai.
Diplomasi yang tersendat dan dunia yang menunggu dengan cemas apakah konflik ini menuju perdamaian atau justru babak baru pertumpahan darah yang lebih panjang.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok