Berita, Nasional

Pengamat Nilai Fokus Publik terhadap Kericuhan di UGM Telah Bergeser dari Substansi Kritik Mahasiswa

Repelita.net

16 June 2026 23:47 WIB • 999 view

Pengamat Nilai Fokus Publik terhadap Kericuhan di UGM Telah Bergeser dari Substansi Kritik Mahasiswa
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kericuhan dalam forum diskusi di Universitas Gadjah Mada yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah menuai beragam tafsir di ruang publik.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menyoroti adanya pergeseran fokus dari substansi kritik mahasiswa menjadi persoalan etika penyampaian.

ADVERTISEMENT

Narasi yang berkembang di media sosial cenderung menyudutkan mahasiswa dengan label persekusi, padahal ada agenda besar terkait kebijakan publik yang ingin disuarakan.

“Pengalihan isu terkait kejadian di UGM tentu umum dalam dunia politik. Masing-masing pihak berupaya mencari pembenaran dalam peristiwa tersebut,” ujar Jamiluddin, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, pengabaian terhadap pesan utama mahasiswa mengenai harga kebutuhan pokok, nilai tukar rupiah, hingga program strategis pemerintah merupakan dampak dari pembingkaian peristiwa tersebut.

Mahasiswa terlihat membawa rasa tidak percaya terhadap narasumber tertentu, terutama kepada Budiman Sudjatmiko, yang dianggap telah berbelok arah dari perjuangan masa lalu.

"Bagi sebagian mahasiswa, masalahnya bukan pada Pancasila, tetapi pada narasumber yang mereka nilai sudah tak layak dipercaya. Hal itu terlihat dari ucapan mereka yang menyebut Budiman Sudjatmiko penghianat," jelasnya.

Jamiluddin menyayangkan respons mahasiswa yang lantas dipolitisasi sebagai tindakan tidak beradab, sehingga inti dari protes yang mereka layangkan menjadi tidak terdengar.

"Jadi yang dinilai bukan substansinya tapi justru pada gaya mengkritiknya," imbuhnya.

Ia menekankan bahwa cara mengkritik adalah preferensi personal yang tidak bisa diseragamkan, sehingga fokus seharusnya tetap pada materi permasalahan bangsa.

"Karena itu, tak seharusnya yang dibesar-besarkan pada gaya mengkritik. Hal ini pasti menghilangkan substansi kritik yang disampaikan,” tegasnya.

Jamiluddin berharap seluruh elemen masyarakat mampu melihat insiden tersebut secara objektif tanpa terdistraksi oleh narasi yang sengaja dibangun untuk mengaburkan persoalan nyata.

“Jadi, apa yang terjadi di UGM itu jangan di frame melampaui substansinya. Dengan begitu, semua pihak dapat melihat peristiwa tersebut lebih jernih dan utuh,” pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung