Berita, Nasional

Pemerintah Rangkul Homeless Media ke Forum Media Digital Nasional

Repelita.net

07 May 2026 15:37 WIB • 669 view

Pemerintah Rangkul Homeless Media ke Forum Media Digital Nasional
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mulai merangkul puluhan media digital yang sebelumnya dikenal dengan istilah "homeless media" untuk masuk ke dalam ekosistem komunikasi nasional.

Langkah strategis ini diumumkan dalam konferensi pers di kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (6/5/2026), dengan membentuk wadah kolaborasi bernama New Media Forum.

ADVERTISEMENT

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil karena realitas pola konsumsi informasi masyarakat saat ini telah bergeser secara drastis ke kanal-kanal digital.

“Dulu dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman sekarang bertransformasi menjadi new media,” ujar Qodari dalam forum tersebut .

Ia menyebut, forum ini diisi oleh puluhan pelaku media digital dan kreator informasi yang selama ini aktif membangun audiens melalui berbagai platform digital seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan X.

Beberapa nama yang disebut bergabung antara lain Folkative, Indozone, Dagelan, Narasi, USS Feeds, Kok Bisa, GNFI, CXO Media, Volix, Big Alpha, Goodstats, Pandemic Talks, hingga Mahasiswa dan Jakarta .

Menurut Qodari, media-media baru ini memiliki jangkauan audiens yang sangat besar, dengan total pengikut mencapai puluhan hingga ratusan juta serta jumlah tayangan konten mencapai miliaran setiap bulannya.

“Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tetapi juga melalui kanal-kanal digital,” tegasnya .

Pemerintah menilai pendekatan merangkul dan membina media baru jauh lebih penting dibandingkan membiarkan ekosistem digital berkembang tanpa arah dan arahan yang jelas.

Qodari mengakui bahwa masih ada sejumlah tantangan yang harus dibahas bersama, terutama terkait standar profesionalisme jurnalistik seperti prinsip cover both side (berimbang) dan verifikasi informasi.

“Jadi kemarin saya diskusi dengan teman-teman new media, apakah mungkin ada mekanisme cover both side? Kalau belum memungkinkan, metode verifikasi apa yang bisa dipakai,” tuturnya .

Meski demikian, ia menambahkan bahwa sejumlah aspek kelembagaan dasar telah dipenuhi oleh sebagian besar media baru tersebut.

“Beberapa aspek yang lain sudah dipenuhi, misalnya ada perusahaannya, ada semacam redaksinya, ada alamatnya,” imbuh Qodari .

Hal ini disebut menjadi pembeda antara new media dengan akun media sosial biasa yang cenderung anonim dan tidak memiliki struktur organisasi yang jelas.

Pemerintah berharap kolaborasi ini dapat memperluas distribusi informasi publik sekaligus mendorong peningkatan kualitas dan standar konten di ranah digital.

Namun, sejumlah media yang namanya disebut dalam forum tersebut memberikan klarifikasi dan bantahan terbuka.

Narasi melalui akun resmi media sosialnya menyatakan tidak bergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF) dan tidak mengetahui agenda pertemuan dengan Bakom RI pada 6 Mei 2026 .

Big Alpha ID juga mengklarifikasi bahwa informasi yang menyatakan mereka digandeng pemerintah dalam pembentukan INMF tidak sepenuhnya akurat.

“INMF adalah forum komunikasi independen yang dibentuk atas inisiatif para pelaku new media di Indonesia, di mana BigAlpha menjadi salah satu anggotanya,” tulis akun resmi @BigAlphaID .

Meski menuai polemik, Bakom RI tetap berkomitmen untuk terus berdialog dengan berbagai pihak agar standar profesionalisme media digital dapat meningkat dan berjalan beriringan dengan media arus utama.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung