Berita, Internasional

Pelaut AS Diserang Monyet di Thailand saat Perjalanan Misi Ranjau ke Timur Tengah

Repelita.net

24 April 2026 22:53 WIB • 1,023 view

Pelaut AS Diserang Monyet di Thailand saat Perjalanan Misi Ranjau ke Timur Tengah
Foto: Istimewa

Repelita Phuket - Seorang pelaut Amerika Serikat yang bertugas di kapal penyapu ranjau USS Chief menjadi korban serangan tidak biasa saat sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah.

Pelaut yang tidak disebutkan namanya itu diserang oleh seekor monyet saat melakukan kunjungan darat di Phuket, Thailand.

ADVERTISEMENT

Ia merupakan bagian dari kru yang bertugas membersihkan ribuan ranjau yang ditanam oleh Iran di perairan Selat Hormuz.

Korban kemudian dievakuasi ke pangkalan USS Chief di Sasebo, Jepang, untuk menerima perawatan medis yang layak.

Meskipun insiden tersebut tidak menunda misi USS Chief, Angkatan Laut AS mengakui bahwa serangan monyet ini menyoroti adanya gangguan tak terduga yang sulit diperhitungkan.

"Hal-hal aneh terjadi. Ini jelas merupakan hal yang tidak terduga," kata seorang pejabat militer seperti dikutip oleh media asing.

Thailand memang terkenal dengan populasi monyet makaka yang berkeliaran bebas di jalanan kota.

Kawanan monyet tersebut kerap mencuri makanan dan barang-barang konsumsi lainnya dari orang-orang yang melintas.

Dalam beberapa kasus, pertemuan dengan monyet makaka dapat berakibat fatal karena hewan ini merupakan pembawa virus Herpes B.

Ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz terus memanas selama beberapa pekan terakhir.

Kedua belah pihak sama-sama mempertahankan blokade laut, menciptakan kebuntuan tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (23/4/2026) memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal apa pun yang kedapatan memasang ranjau di selat tersebut.

Militer AS juga mengklaim telah mencegat dua kapal tanker minyak super yang mencoba menghindari pembatasan lalu lintas ke pelabuhan Iran.

Sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia biasanya melewati Hormuz, belum termasuk gas alam cair, aluminium, pupuk, dan produk pertanian.

Selat strategis itu telah ditutup hampir dua bulan, sementara pembicaraan perdamaian sejauh ini belum membuahkan hasil yang signifikan.

Iran menegaskan tidak akan membuka Selat Hormuz sampai AS menghentikan blokade atas pelabuhan negara tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung