Repelita Jakarta - Eskalasi keamanan di kawasan Teluk berada pada titik nadir pasca-munculnya draf regulasi dari dewan perwakilan rakyat teheran yang menawarkan imbalan dana kompensasi luar biasa senilai jutaan euro bagi eksekutor kepala negara adidaya serta pimpinan zionis.
Upaya perburuan internasional tersebut digelorakan oleh faksi radikal parlemener sebagai aksi balasan atas tewasnya figur spiritual tertinggi mereka akibat operasi udara gabungan sekutu pada fase awal pergolakan militer awal tahun ini.
ADVERTISEMENT
Draf payung hukum sayembara pembunuhan tersebut awalnya dipublikasikan oleh kantor berita investigasi eropa yang mendeteksi adanya pergerakan legislasi khusus di internal komite pertahanan republik islam tersebut.
Langkah provokatif teheran ini dinilai banyak pengamat barat akan menjadi pemantik konflik terbuka yang paling berisiko merusak tatanan diplomasi global lantaran secara terang-terangan menargetkan nyawa pimpinan eksekutif negara lain.
“Karena Trump memerintahkan pembunuhan Ali Khamenei, maka dia sendiri harus dihukum oleh setiap Muslim dan setiap orang merdeka,” kata Azizi menyatakan kemarahan besarnya di hadapan saluran komunikasi resmi pemerintah setempat.
Sentimen anti-barat kian meluas di kalangan dewan ulama setempat yang mulai mengeluarkan seruan mobilisasi massa internasional guna mengejar pertanggungjawaban atas runtuhnya marwah kepemimpinan mereka akibat invasi udara tersebut.
Para pembuat kebijakan di teheran secara berkala juga memanfaatkan mimbar publik untuk menegaskan bahwa perimeter pertahanan mereka kini diarahkan sepenuhnya pada kehancuran pusat komando lawan di tel aviv maupun washington.
“Pejabat kotor Amerika dan Zionis harus tahu, jika ada agresi lagi kali ini, kami akan menghancurkan mereka bersama istana-istana mereka,” tegas Nabavian mengancam eksistensi pangkalan militer sekutu di sekitar wilayah perbatasan.
Di sisi lain kubu gedung putih dilaporkan sempat menginstruksikan mobilisasi armada tempur udara secara masif guna melakukan pemboman balasan skala penuh ke beberapa objek vital industri strategis milik teheran.
Akan tetapi perintah serangan udara pada menit-menit krusial tersebut akhirnya ditangguhkan oleh sang presiden setelah menerima desakan diplomasi dari para penguasa monarki arab yang menginginkan dibukanya ruang perundingan atom.
Melalui pernyataan tertulis di jejaring sosial pribadinya sang kepala negara mengonfirmasi penundaan operasi militer tersebut namun tetap menyertakan klausul pembatasan ketat terhadap kepemilikan material hulu ledak nuklir teheran.
Hingga saat ini kesiagaan komando armada laut sekutu di perairan internasional dilaporkan tetap berada pada level tertinggi mengingat belum adanya kesepakatan tertulis yang dicapai oleh kedua belah pihak dalam meja negosiasi pembatasan senjata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok