Repelita Jakarta - Bendahara negara Purbaya Yudhi Sadewa melayangkan serangan balik verbal guna mementahkan analisis miring dari media ekonomi terkemuka asal Britania Raya yang mendiskreditkan arah kebijakan strategis kabinet baru.
Purbaya menjamin tata kelola keuangan domestik tetap berada pada koridor konservatif berkat kemampuan otoritas fiskal menahan laju pelebaran margin pembiayaan di bawah ambang batas konstitusional.
ADVERTISEMENT
Dirinya menegaskan indikator kesehatan kas negara masih terjaga ketat guna menepis kekhawatiran publik global mengenai potensi guncangan stabilitas moneter nasional, “Kan (defisit) fiskal kita bisa dikendalikan di bawah 3 persen dari PDB. Tahun lalu bukan 2,9 persen lho, 2,8 persen dari PDB defisitnya. Jadi, nggak ada masalah,” tuturnya mematahkan spekulasi negatif.
Menteri keuangan kemudian mengomparasikan rapor makroekonomi tanah air dengan sejumlah yurisdiksi di benua biru yang secara faktual mencatatkan pembengkakan liabilitas serta ketimpangan anggaran yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Atas dasar anomali tersebut, Purbaya memandang penilaian yang dialamatkan pada kredibilitas pengelolaan anggaran domestik terkesan tendensius serta menutup mata terhadap realitas krisis finansial global.
Dirinya menantang pengamat eksternal untuk bersikap objektif dengan menilik komparasi data riil performa keuangan negara-negara barat, “Sekarang pun kita hitung defisitnya berapa. Jadi, kalau The Economist memandang kebijakan fiskal kita berantakan, mereka suruh liat deh kebijakan-kebijakan negara Eropa berapa defisitnya, utangnya berapa. Itu mendekati 100 persen semua lho dari PDB,” paparnya secara lugas.
Mengingat rasio pinjaman eksternal Indonesia masih bertahan pada level aman, sang bendahara negara meyakini ketahanan ekonomi domestik jauh lebih tangguh menghadapi volatilitas pasar ketimbang negara maju.
Alih-alih ditempatkan dalam posisi defensif, efektivitas penataan keuangan dalam negeri dinilai sudah selayaknya mendapatkan apresiasi internasional karena mampu bertahan di tengah tekanan geopolitik global, “Kita masih 40 persen (dari PDB). Kita masih bagus. Harusnya The Economist muji kita,” cetus sang menteri menambahkan.
Adapun ulasan bertajuk kritik tajam dari media barat tersebut menuding bahwa kepemimpinan eksekutif yang baru tengah mempertaruhkan stabilitas makroekonomi sekaligus mencederai iklim sosiopolitik tanah air.
Fokus keberatan asing tertuju pada ongkos operasional raksasa untuk pemenuhan nutrisi gratis massal serta modernisasi puluhan ribu lembaga ekonomi mikro di pedesaan yang dianggap berisiko memicu defisit fiskal akut.
Kondisi tersebut diklaim kian mengkhawatirkan menyusul tren penurunan pendapatan negara akibat koreksi harga komoditas andalan di pasar internasional disertai beban subsidi energi yang menguras cadangan devisa.
Analisis asing tersebut bahkan memproyeksikan adanya potensi pemangkasan peringkat investasi nasional apabila komitmen disiplin fiskal mulai diabaikan demi merealisasikan janji kampanye politik proteksionis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok